BUKU : KENAPA DULU AKU MASUK NII ALZAYTUN
29 Agustus 2010NII, Komando Jihad dan Orde Baru
9 Agustus 2010Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo (SMK). Karena, seluruh tokoh penting yang terlibat di dalam gerakan Komando Jihad ini, adalah petinggi NII (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta.
Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu bentuk petualangan politik para pengikut SMK pasca dieksekusinya sang imam. Sebelumnya, pada Agustus 1962, seluruh warga NII (DI/TII) yang jumlahnya mencapai ribuan orang, mendapat amnesti dari pemerintah. Termasuk, 32 petinggi NII (DI/TII) dari sayap militer, belum termasuk Haji Isma’il Pranoto (Hispran) dan anak buahnya, yang baru turun gunung (menyerah kalah kepada pasukan Ali Moertopo) pada 1974.
Dari 32 petinggi NII (DI/TII) yang telah menyerah[1] kepada pihak Soekarno tanggal 1 Agustus 1962 itu, sebagian besar menyatakan ikrar bersama, yang isinya:
“Demi Allah, saya akan setia kepada Pemerintah RI dan tunduk kepada UUD RI 1945. Setia kepada Manifesto Politik RI, Usdek, Djarek yang telah menjadi garis besar haluan politik Negara RI. Sanggup menyerahkan tenaga dan pikiran kami guna membantu Pemerintah RI cq alat-alat Negara RI. Selalu berusaha menjadi warga Negara RI yang taat baik dan berguna dengan dijiwai Panca Sila.” [2]
Sebagian kecil di antara mereka tidak mau bersumpah setia, yaitu Djadja Sudjadi, Kadar Shalihat, Abdullah Munir, Kamaluzzaman, dan Sabur. Dengan adanya ikrar tersebut, maka kesetiaan mereka kepada sang Imam telah bergeser, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagai sebuah gerakan berbasis ideologi Islam, NII (DI/TII) sudah gagal total. Dan sisa-sisa gerakan NII pada saat itu (1962) dapat dikata sudah hancur lebur basis keberadaannya.
Setelah tiga tahun vakum, ada di antara mereka yang berusaha bangkit melanjutkan perjuangan, namun dengan meninggalkan karakter militeristik dan mengabaikan struktur organisasi kenegaraan NII. Mereka inilah yang meski sudah menerima amnesti namun tidak mau bersumpah-setia sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar mantan petinggi NII lainnya.
Gerakan tersebut menamakan diri sebagai gerakan NII Fillah (bersifat Non Struktural). Kepemimpinan gerakan dijalankan secara kolektif oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi. Munculnya kelompok Fillah atau NII non struktural ini, ditanggapi serius oleh pihak militer NKRI. Yaitu, dengan menciptakan “keseimbangan”, dengan cara melakukan penggalangan kepada para mantan “mujahid” NII yang pernah diberi amnesti dan telah bersumpah setia pada Agustus 1962 lalu.
Melalui jalur dan kebijakan Intelijen, pihak militer memberikan santunan ekonomi sebagai bentuk welfare approach (pendekatan kesejahteraan) kepada seluruh mantan “mujahid” petinggi NII yang menyerah dan memilih menjadi desertir sayap militer NII.
Nama-nama Tokoh Penting di Belakang Gerakan Komando Jihad.
Nama Danu Mohammad Hasan[3] yang pertama kali dipilih Ali Murtopo untuk didekati dan akhirnya berhasil dibina menjadi ‘orang’ BAKIN, pada sekitar tahun 1966-1967. Pendekatan intelijen itu sendiri secara resmi dimulai pada awal 1965, dengan menugaskan seorang perwira OPSUS bernama Aloysius Sugiyanto.[4] Tokoh selanjutnya yang menyusul dibidik Ali Murtopo adalah Ateng Djaelani Setiawan.
Tokoh lain yang diincar Ali Murtopo dalam waktu bersamaan yang didekati Aloysius Sugiyanto adalah Daud Beureueh mantan Gubernur Militer Daerah Istimewa ACEH tahun 1947 yang memproklamirkan diri sebagai Presiden NBA (Negara Bagian Aceh) pada 20 September 1953, dan menyerah, kembali ke NKRI Desember tahun 1962.
Selanjutnya pendekatan terhadap para mantan petinggi sayap militer DI-TII yang lain yang berpusat di Jawa Barat dilakukan oleh Mayjen Ibrahim Aji, Pangdam Siliwangi saat itu.[5] Mereka yang dianggap sebagai “petinggi NII” oleh Ibrahim Aji itu di antaranya: Adah Djaelani dan Aceng Kurnia. Kedua mantan petinggi sayap militer DI ini pada saat itu setidaknya membawahi 24-26 nama (bukan ulama NII). Sedangkan mereka yang dianggap sebagai mantan petinggi sayap sipil DI yang selanjutnya menyatakan diri sebagai NII Fillah –antara lain adalah Kadar Shalihat, Djadja Sudjadi dan Abdullah Munir dan Kamaluzzaman– membawahi puluhan ulama NII.
Pengaruh dan Akibat Kebijakan Intelijen Ali Murtopo – ORDE BARU.
Baik menurut kubu para mantan petinggi sayap militer maupun sayap sipil NII, politik pendekatan pemerintah orde baru melalui Ibrahim Aji yang menjabat Pangdam Siliwangi tersebut, sangat diterima dengan baik, kecuali oleh beberapa pribadi yang menolak uluran pemerintah tersebut, yaitu Djadja Sudjadi[6] dan Abdullah Munir. Para mantan tokoh sayap militer dan sayap sipil DI selanjutnya menjadi makmur secara ekonomi. Hampir masing-masing individu mantan tokoh DI tersebut diberi modal cukup oleh Letkol Pitut Suharto berupa perusahaan CV (menjadi kontraktor) dilibatkan dalam proyek Inpres, SPBU atau agen Minyak Tanah.
Kebijakan OPSUS dan Intelijen selanjutnya menggelar konspirasi dengan meminta para mantan laskar NII tersebut mengkonsolidasikan kekuatan melalui reorganisasi NII ke seluruh Jawa dan Sumatra. Pada saat itu Ali Murtopo masih menjabat Aspri Presiden selanjutnya menjadi Deputi Operasi Ka BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya ‘opera’ konspirasi dan rekayasa operasi intelijen dengan sandi: “Komando Jihad” di Jawa Timur.
Dalam waktu yang bersamaan Soeharto menyiapkan Renstra (Rencana Strategis) Hankam (1974-1978) sebagaimana dilakukan ABRI secara sangat terorganisir dan sistematis melalui penyiapan 420 kompi satuan operasional, 245 Kodim sebagai aparat teritorial dan 1300 Koramil sebagai ujung tombak intelijen dalam gelar operasi keamanan dalam negeri yang diberi sandi Opstib dan Opsus.
Sementara, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 tersebut Ali Murtopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan al-Ubaidah Imam kelompok Islam Jama’ah yang secara kelembagaan telah dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, namun pada waktu yang sama justru dipelihara serta diberi kesempatan seluas-luasnya melanjutkan kiprahnya dengan missi menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang.
Dari sinilah pendekatan itu berkembang menjadi makin serius dan signifikan, ketika Ali Murtopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis dari utara maupun dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Ide Ali Murtopo ini selanjutnya diolah Danu Mohammad Hasan dan dipandu Letkol Pitut Suharto, disambut Dodo Muhammad Darda, Tahmid Rahmat Basuki (anak SMK) dan H.Isma’il Pranoto (Hispran).
Keberadaan dan latar belakang Letkol Pitut Suharto yang memiliki kedekatan hubungan pribadi dengan Andi Sele di Makassar, juga dengan H. Rasyidi [7] di Gresik Jawa Timur, pada tahun 1968 akhirnya ditugaskan Ali Murtopo untuk mengolah hubungan dan keberadaan para mantan petinggi NII yang sudah dirintisnya sejak 1965 tersebut dengan kepentingan membelah mereka menjadi 2 faksi.
Faksi pertama diformat menjadi moderat untuk memperkuat Golkar, dan faksi kedua diformat bagi kebangkitan kembali organisasi Neo NII.
Keterlibatan Pitut Suharto yang akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi pejabat Dir Opsus di bawah Deputi III BAKIN terus berlanjut, Pitut tidak saja bertugas untuk memantau aktifitas para mantan tokoh DI tersebut, tetapi Pitut sudah terlibat aktif menyusun berbagai rencana dan program bagi kebangkitan NII, baik secara organisasi maupun secara politik termasuk aksi gerakannya.
Ketika BAKIN membuat program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah –seperti Mesir, Syria, Libya dan Saudi Arabia yang diantara alumnnya kemudian terkait dengan konflik Moro (MNLF) dan kelompok perlawanan Aceh– Pitut Suharto-lah yang ditunjuk Ali Murtopo untuk mengelola (membimbing, memantau, mengurus dan menyelesaikan) masalah tersebut, sekalipun keberangkatan para kader aktifis Indonesia ke Negara-negara Timur Tengah tersebut terbukti hanya untuk mempelajari pola-pola gerakan Islam di sana, sembari mempelajari syari’ah sebagai cover, dan melakukan pelatihan militer.
Tetapi antisipasi yang dilakukan pihak pemerintah Indonesia pada saat itu terlampau maju dan cepat, sekitar tahun 1975 keberadaan kedutaan Libya di Jakarta dipaksa tutup. Tetapi skenario Opsus terhadap kebangkitan organisasi NII terus digelindingkan. Bahkan Pitut Suharto (pihak intelijen/orde baru) justru menggunakan isu politik Libya di mata Barat dan bangkitnya NII tersebut dijadikan sebagai isu sentral terkait dengan “bahaya laten kekuatan ekstrim kanan” di Indonesia.
Kebijakan Abbuse of Power Intelijen Ali Murtopo.
Bersamaan dengan kebijakan itu (memanfaatkan situasi politik terhadap Libya tersebut) strategi Opsus yang dilancarkan melalui Pitut Suharto berhasil meyakinkan para Neo NII tersebut untuk sesegera mungkin menyusun gerakan jihad yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra untuk melawan dan merebut kekuasaan Soeharto. Semakin cepat hal tersebut dilaksanakan semakin berprospek mendapat bantuan persenjataan dari Libya, yang sudah diatur Ali Murtopo.
Berkat panduan Letnan Kolonel TNI AD Pitut Suharto[8] kegiatan musyawarah dalam rangka reorganisasi NII yang meliputi Jawa-Sumatra tersebut berlangsung beberapa hari, hal itu justru dilaksanakan di markas BAKIN jalan Senopati, Jakarta Selatan. Di sinilah situasi dan kondisi (hasil rekayasa BAKIN-Ali Murtopo dan Pitut Suharto melalui kubu Neo NII Sabilillah di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, Hispran dkk) berhasil didesakkan kepada kubu Fillah yang dipimpin secara kolektif oleh Djaja Sudjadi, Kadar Shalihat dan Abdullah Munir dkk untuk memilih kepemimpinan.
Hasil musyawarah kedua kubu (Fillah dan Sabilillah ini) yang dilakukan pada tahun 1976 ini menetapkan, kepemimpinan NII diserahkan kepada Tengku Daud Beureueh sekaligus membentuk struktur organisasi pemerintahan Neo NII yang terdiri dari Kementrian dan Komando kewilayahan (dari Komandemen Wilayah hingga Komandemen Distrik dan Kecamatan) namun tanpa dilengkapi dengan Majelis Syura maupun Dewan Syura.
Provokasi dan jebakan OPSUS terhadap para mantan tokoh DI berhasil, Struktur organisasi NII kepemimpinan Daud Beureueh berdiri dan berlangsung di bawah kendali Ali Murtopo yang saat itu menjabat sebagai Deputi Operasi Ka BAKIN melalui Kolonel Pitut Suharto.
Gerakan dakwah agitasi dan provokasi neo NII Sabilillah disponsori Pitut Suharto dan Ali Murtopo mulai berkembang ke seantero pulau Jawa. Muatan dakwah, agitasi dan provokasi para tokoh Neo NII bentukan Ali Murtopo-Pitut Suharto hanya berkisar seputar pentingnya struktur organisasi NII secara riil.
Karenanya kegiatan seluruh anggota kabinet Neo NII adalah melakukan rekrutmen melalui pembai’atan secepatnya untuk mengisi posisi pada struktur wilayah (Gubernur sekaligus sebagai Pangdam = Komandemen Wilayah) dan posisi pada struktur Distrik (Bupati sekaligus sebagai Kodim = Komandemen Distrik) seraya menebar janji akan segera memperoleh supply persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal[9] yang akan mendarat di pantai selatan Pulau Jawa.
Sasaran rekrutmen (pembai’atan) dilakukan hanya sebatas mengisi posisi pada komandemen distrik struktur Neo NII, maka sasaran rekrutmen dipilih secara tidak selektif di antaranya adalah para tokoh pemuda Islam dan ulama atau kiai yang nota bene sangat awam politik maupun organisasi.
Tugas rekrutmen untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh H. Isma’il Pranoto dan H. Husein Ahmad Salikun. Di Jawa Timur aktifitas rekrutmen bagi kebangkitan Neo NII yang dilakukan oleh H. Isma’il Pranoto tersebut sama sekali tidak terlihat ada tindak lanjut apapun, baik yang berbentuk pelatihan manajemen dakwah dan organisasi maupun yang bersifat fisik baris berbaris, menggunakan senjata atau merakit bom. Tetapi hanya terhitung selang sebulan atau dua bulan kemudian, aparat keamanan dari Laksus tingkat Kodam, Korem dan Kodim menggulung dan menyiksa mereka tanpa ampun.
Jumlah korban penangkapan oleh pihak Laksusda Jatim yang digelar pada tanggal 6-7 Januari 1977 terhadap para rekrutan baru H. Isma’il Pranoto mencapai sekitar 41 orang, 24 orang di antaranya diproses hingga sampai ke pengadilan.
H. Ismail Pranoto divonis Seumur Hidup, sementara para rekrutan Hispran yang juga disebut sebagai para pejabat daerah struktur Neo NII tersebut, baru diajukan ke persidangan pada tahun 1982, setelah “disimpan” dalam tahanan militer selama 5 tahun, dengan vonis hukuman yang bervariasi. Ada yang divonis 16 tahun, 15 tahun, 14 tahun hingga paling ringan 6 tahun penjara.
H. Ismail Pranoto disidangkan perkaranya di Pengadilan Negeri Surabaya tahun 1978 dengan memberlakukan UU Subversif PNPS No 11 TH 1963 atas tekanan Pangdam VIII Brawijaya saat itu, Mayjen TNI-AD Witarmin[10]. Sejak itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan Islam.
Nama Komando Jihad sendiri menurut H. Isma’il Pranoto merupakan tuduhan dan hasil pemberkasan pihak OPSUS, baik pusat maupun daerah (atas ide Ali Murtopo dan Pitut Suharto). Sementara penyebutan yang berlaku dalam tahanan militer Kodam VIII Brawijaya – ASTUNTERMIL di KOBLEN Surabaya, mereka dijuluki sebagai jaringan Kasus Teror Warman (KTW).
Sementara keberadaan Pitut Suharto sendiri sejak tanggal 6 Januari 1977 – saat dimulainya penangkapan terhadap H. Isma’il Pranoto dan orang-orang yang direkrutnya sebagai kelompok Komando Jihad– Pitut justru pergi menyelamatkan diri dengan menetap di Jerman Barat, dan baru kembali ke Indonesia setelah 6 atau 7 tahun kemudian.
Di Jawa Tengah sendiri aksi penangkapan terhadap anggota Neo NII rekrutan H. Isma’il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun oleh OPSUS, seperti Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar Ba’asyir dan kawan-kawan berjumlah cukup banyak, sekitar 50 orang, akan tetapi yang diproses hingga sampai ke pengadilan hanya sekitar 29 orang. Penangkapan terhadap anggota Neo NII wilayah Jawa Tengah rekrutan H. Isma’il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun berlangsung tahun 1978-1979.
Di Sumatera, aksi penangkapan secara besar-besaran berdasarkan isu Komando Jihad ini terjadi sepanjang tahun 1976 hingga tahun 1980, dan berhasil menjaring dan memenjarakan ribuan orang.
Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII –yang musyawarah pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta Selatan)– seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja’i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar 200 orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981.
Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama tokoh yang dibebaskan tanpa syarat, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu, salah seorang alumni program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah (Madinah, Saudi Arabia) oleh Bakin.
Akan tetapi isu dan dalih keterkaitan dengan bahaya kebangkitan NII, Komando Jihad dan Teror Warman berdasarkan hasil pengembangan penyidikan pihak keamanan terhadap mereka yang pernah ditangkap maupun yang diproses ke pengadilan, oleh pihak OPSUS digunakan terus untuk melakukan penangkapan-penangkapan secara berkelanjutan dan konsisten.
Sekitar medio 1980 OPSUS Jawa Timur melakukan penangkapan terhadap 5 tokoh pelanjut Komandemen Wilayah Jawa Timur, Idris Darmin Prawiranegara. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan berikutnya pada medio 1982, terhadap orang-orang baru yang direkrut Idris Darmin di wilayah jawa timur dengan jumlah sekitar 26 orang.
Kesimpulan
Secara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir dibidani dan buah karya operasi intelijen OPSUS tersebut, sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fii sabilillah).
Misi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh materi dan kedudukan politis, kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelijen BAKIN yang benci terhadap Islam. Dengan demikian gerakan Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun para mantan tokoh sayap militer DI tersebut sulit dinilai sebagai perjuangan yang murni untuk tegaknya Islam.
Perjuangan dan usaha para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh jabatan politis atau sarana materi sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, menunjukkan posisi mereka sebagai korban pengkhianatan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik.
Seluruh bentuk kerugian atau efek negatif yang menimpa masyarakat Neo NII adalah karena provokasi dan agitasi para mantan tokoh sayap militer DI, yang secara sadar dan sukarela menyetujui dan mendukung kebijakan intelijen OPSUS (orde baru). Oleh karenanya merekalah yang harus bertanggungjawab atas hancurnya gerakan dakwah Islam dan citra negatif citra negatif dakwah. Dalam hal ini, ada tiga pihak yang harus bertanggung jawab :
Pihak ke I adalah aparat teritorial pemerintah Orde Baru, mulai dari tingkat Kodim, Korem hingga Kodam yang pada masa itu disebut sebagai aparat Laksusda (DanSatgas Intel atau Intel Balak = Intelijen Badan Pelaksana) yang bertugas melakukan penangkapan, penyiksaan hingga pemberkasan terhadap jaringan gerakan Islam (Neo NII, Komando Jihad, Teror Warman, Teror Imran* dan Usrah) yang menjadi target obyek operasi intelijen. Pihak berikutnya adalah para pemrakarsa, pembuat skenario dan sutradara dari operasi intelijen yang dirancang oleh sayap intelijen yang berkuasa penuh di bawah struktur Kopkamtib.
Pihak ke I bisa juga disebut sebagai kekuatan bayangan dari struktur kekuasaan yang ada saat itu namun diformat memiliki kewenangan penuh untuk merancang program, mekanisme dan pengelolaan (mengendalikan) terhadap perjalanan sistem politik, ekonomi dan pemerintahan yang berlaku. Pihak ke I sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dan menerima order, baik dari penguasa domestik maupun asing, mengingat hukum Politik, kepentingan kekuasaan dan intelijen selalu mengglobal, sesuai peta dan kubu ideologi yang eksis di dunia atau berlaku universal.
Oleh karena itu pihak ke I diberi kewenangan luar bisa, baik dalam menyusun grand ’scenario’ hingga tingkat pelaksanaan (juklak) yang dilakukan secara rahasia dan rapi, selanjutnya dikordinasikan penerapan aturan mainnya dengan lemhannas dan departemen-departemen maupun kementrian. Dengan demikian tugas, peran dan keberadaan pihak ke I menurut garis besar haluan negara merupakan hal yang legal dan wajar, sekalipun untuk kepentingan itu harus mengorbankan apa saja (abuse of power: terhadap demokrasi dan HAM) atau membuat sandiwara dan rekayasa apa saja. Itulah hukum yang berlaku dalam dunia politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen.
Selanjutnya, pihak ke I lainnya adalah mereka yang menjadi inisiator membangkitkan neo NII, dalam rangka memberikan stigma negative terhadap umat Islam, menciptakan beban psikologis kepada umat Islam Indonesia yang hingga kini diposisikan sebagai produsen gerakan radikal bahkan pelaku teror. Sebagai aparat negara seharusnya mereka menggali potensi rakyat dan memberdayakan potensi tersebut ke tempat semestinya, bukan justru dijadikan instrumen politik untuk menggapai kekuasaan dan atau mempertahankan kekuasaan.
- Pihak ke II adalah pihak yang secara sengaja dan sadar menjalin hubungan dengan pihak ke I, yang dikenal dan dipahami sebagai pejabat intelejen militer sekaligus sebagai pejabat pemerintah dan Negara yang licik dan kejam.
- Pihak ke III, adalah orang-orang yang bersedia direkrut dan memposisikan dirinya sebagai pihak yang secara sadar telah terdorong dan termotivasi untuk berjihad secara ikhlas di jalan Islam namun terperosok dan terlanjur masuk ke dalam struktur gerakan Neo NII. Posisi mereka adalah sebagai korban tak sadar dari abuse of Power, sistem dan kebijakan politik maupun intelejen Orde Baru.
Keterangan Tambahan Mengenai Teror Imran:
Munculnya kasus Jama’ah Imran pada pertengahan tahun 1980 berlangsung melalui proses yang berdiri sendiri. Dalam artian, tidak ada keterkaitan dan tidak ada hubungan –baik secara ideologi maupun sikap politik– dengan eksistensi gerakan Neo NII atau Komando Jihad dan Teror Warman.
Memang sempat terjadi “interaksi” antara anggota Jama’ah Imran dengan beberapa elite KW-9 (Komandemen Wilayah 9) dalam struktur Neo NII atau Komando Jihad hasil ciptaan Ali Murtopo dan Pitut Suharto tersebut.
Bentuk “interaksi” yang terjadi pada akhir 1980-an itu, bukanlah “interaksi” yang kooperatif tetapi justru saling kecam dan saling ancam. Hal ini terjadi, karena H.M. Subari (alm) yang merupakan elite (orang struktur) Neo NII KW-9 pernah mengatakan, “dalam satu wilayah tidak boleh ada 2 Jama’ah dan 2 Imam yang berlangsung secara bersamaan, kecuali salah satunya harus dibunuh.”
FOOTNOTE
[1] Padahal, amanat/wasiat sang imam (SMK) adalah tidak boleh menyerah.
[2] Rahmat Gumilar Nataprawira, RUNISI (Rujukan Negara Islam Indonesia). Dipertegas juga oleh pernyataan lisan dari Abdullah Munir dan tertulis dari Abdul Fatah Wirananggapati (pemegang amanah KUKT dari SMK 1953).
[3] Mantan Panglima Divisi atau Komandan Resimen DI-TII, pada saat sidang pengadilan Militer – MAHADPER, Agustus 1962 mengaku salah dan memberi kesaksian yang isinya menyalahkan sikap dan kebijakan politik SM Kartosoewiryo. Hubungan ini kemudian memberi OPSUS buah menguntungkan yang tidak disangka-sangka. “Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu,” kenang Sugiyanto, “dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta.” Selanjutnya sejak tahun 1971, Danu Muhammad Hasan dan Daud Beureueh sering terlihat di jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat (salah satu kantor Ali Murtopo), terkadang di Jalan Senopati (Kantor BAKIN), ada kalanya di Tanah Abang III (Kantor CSIS).
[4] Menurut Sugiyanto hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. “Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu,” kenang Sugiyanto, “dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta.” (lebih jelasnya lihat Kenneth Conboy, Intel: Inside Indonesia’s Inteligence Services).
[5] Seperti pengakuan Ules Suja’i: “Soal pak Adah yang santer diisukan menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya Alhamdulillah berhasil.”
[6] Djadja Sudjadi akhirnya tewas dibunuh Ki Empon atas perintah Adah Djaelani. Ironisnya, hingga akhir hayatnya Ki Empon meninggal dalam keadaan miskin dan serba susah sedangkan Adah Djaelani hidup terpandang dan lumayan sejahtera sebagai petinggi yang lebih dihormati dari AS Panji Gumilang di lingkungan mabes NII di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu.
[7] H. Rasyidi, adalah bapak kandung Abdul Salam alias Abu Toto alias Syaikh A.S. Panji Gumilang, yang kini menjadi syaikhul Ma’had Al-Zaytun yang dikenal sebagai “mabes” NII yang kental dengan nuansa misteri intelejen. Abu Toto alias Abdul Salam Panji Gumilang sendiri sejak mahasiswa menjadi kader intelejen kesayangan Pitut Suharto.
[8] Pitut Suharto pensiun dengan pangkat Kolonel, kini berdomisili di Surabaya.
[9] Janji serupa ini juga berulang pada diri Nur Hidayat, provokator kasus Lampung (Talangsari) yang terjadi Februari 1989. Nur Hidayat dkk ketika itu yakin sekali bahwa rencana makarnya pasti berhasil karena akan mendapat bantuan senjata satu kapal yang akan mendarat di Bakauheni, Lampung.
[10] Witarmin, menurut penuturan H Isma’il Pranoto di masa pergolakan DI-TII adalah sebagai komandan Batalyon 507 Sikatan yang sempat dilucuti oleh pasukan TII di bawah komando H. Ismail Pranoto.
[11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, alumni Universitas Madinah, yang dikirim Bakin ke Saudi Arabia dalam Program pemberangkatan para pemuda ke Timur Tengah, yang ketika kembali ke Indonesia aktive dalam pergerakan.
[12] Pada tahun 1984, para para elite NII Komandemen Wilayah IX (yang ditangkap OPSUS pada pertengahan tahun 1980 hingga pertengahan tahun 1981, bersama dengan para pimpinan Neo NII, Adah Djaelani-Aceng Kurnia) dibebaskan bersyarat dari Rumah tahanan militer Cimanggis, tanpa melalui proses hukum (Pengadilan), mereka itu adalah: Fahrur Razi, Royanuddin, Abdur Rasyid, Muhammad Subari, Ahmad Soemargono, Amir, Ali Syahbana, Abdul Karim Hasan, Abidin, Nurdin Yahya dan Muhammad Rais Ahmad, dan Anshory; kecuali Helmi Aminuddin bin Danu M Hasan yang dibebaskan tanpa syarat.
Mohamad Fatih.
Referensi:
- Dengel,Holk H., Darul Islam dan Kartosuwiryo (terj.), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.
- Jackson, Karl D., Kewibawaan Tradisional, Islam dan Pemberontakan: Kasus Darul Islam Jawa Barat, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989.
- Kansil, C.S.T. dan Julianto S.A., Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1982.
- Kuntowidjojo, Dinamika Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: Shalahuddin Press, 1985.
- Van Dijk, C. Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (terj.), Jakarta: Pustaka Grafiti Utama, 1989.
- Horikoshi, Hiroko, “The Darul Islam Movement in West Java : An Experience in Historical Process”, Indonesia, Nr.20, 1975.
- Simatupang, T.B. dan Lapian, “Pemberontakan di Indonesia: Mengapa dan Untuk Apa”, Prisma, 1978.
- Basri, Jusmar, Gerakan Operasi Militer VI: Untuk Menumpas DI-TII di Jawa Tengah, Jakarta: Mega Bookstore dan Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata SAB., n.d.
- Dinas Sejarah Militer TNI-AD, Penumpasan Pemberontakan DI-TII/SMK di Jawa Barat, Bandung: Dinas Sejarah TNI-AD.
- Komando Daerah Militer VII Diponegoro, Staf Umum I, Bahan Perang Urat Syaraf Terhadap Gerombolan D.I. Kartosuwirjo.
- Wawancara dengan beberapa tokoh terkait peristiwa Komando Jihad.
KEMANA ARAH AL ZAYTUN DAN PROGRAM PENDIDIKANNYA ?
29 Juli 2010Dalam program NII KW9, pendidikan bagi jamaah dibagi menjadi dua, yaitu formal dan non formal. Pendidikan formal adalah yang berbasis di Ma’had Al Zaytun sedangkan pendidikan non formal di teritorial dilakukan dalam bentuk silaturahmi, tazkiyah, itishol, ta’lim dan irsyad dari malja (kantor) ke malja di seluruh kontrakan se-Jawa. Dari pendidikan tersebut diharapkan lahir generasi siap pakai untuk mengambil alih tugas kenegaraan dari pejabat di NKRI. Hal yang kemudian terbukti sebagai hal yang jauh dari harapan.
Sebagai presiden merangkap menteri pendidikan NII, Syaikh A.S. Panji Gumilang menggulirkan program one pipe education yang berarti tingkatan S1, S2 dan S3 ditempuh ditempat yang sama bagi mahasiswa di Al Zaytun. Parogram lainnya adalah dengan menggalang para mas’ul untuk bersekolah kembali dan mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe yang dikerjasamakannya dengan mendapatkan komisi 30% dari SPP setiap mahasiswa. Untuk program UT, tidak kurang dari 6.000 mas’ul dari seluruh Jawa ikut serta untuk kembali menjadi mahasiswa. Kelak, mereka diharapkan menjadi ahli dalam bidang politik dan kenegaraan.
Namun, apa lacur. Sejak berdirinya hingga kini, program Al Zaytun mengalami penurunan drastis. Program one pipe education-nya tumbang lantaran tidak ada peminat. Mahad Aly atau universitas Al Zaytun ditutup DIKTI karena bermasalah dalam kualitas maupun kuantitas siswa. Masih di Al Zaytun, siswa yang akan masuk ke jenjang madrasah dan Tsanawiyah pun jauh dari harapan. Yang mendaftar dan diterima hanya berkisar pada angka 120-200 orang saja, itupun berasal dari anak-anak anggota NII. Hasil pendidikannya yang telah lulus tidak mampu bersaing di dunia luar. NCC memberikan catatan kepada lulusan Al Zaytun yang kerap memberikan masukan tentang kiprah para alumninya. Keluh mereka, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan janji Panji Gumilang. Jangankan bisa berbicara 9 bahasa sesuai janjinya, juz amma yang seharusnya menjadi syarat masuk Al Zaytun saja sudah lupa ketika lulus. Alasannya, terlalu banyak main dan pengajaran para asatidz yang tidak fokus. Belum lagi permasalahan yang berkutat pada masalah keuangan yang justru menjadi bisnis sampingan para asatidz dan dewan guru.
Lain lagi pendidikan di teritorial. Para mas’ul yang menjadi mahasiswa UT harus menelan pil pahit. Pasalnya uang SPP mereka yang telah disetorkan ke Al Zaytun untuk pembayaran uang semester tidak disetorkan ke UT hingga setiap mahasiswa dianggap menunggak uang kuliah dan tidak bisa ikut ujian. Uang SPP sebesar Empat milyar bukan angka yang sedikit. Akibatnya, semua masul yang menjadi mahasiswa harus meninggalkan kuliahnya dan menggugurkan angan-angan mereka untuk menjadi pengganti pejabat RI bila futuh kelak akibat ulah pemimpinnya sendiri.
Bila pilar utama yang menjadi dagangan NII KW9 dan Al Zaytun-nya selama ini telah terkapar lunglai tak berdaya, lalu apa yang menjadi alasannya untuk terus berkarya. Apakah beralih pada pembangunan gedung serta pembangunan sektor ekonomi tanpa pendidikan yang berorientasi pada keuntungan?. Mungkin saja. Karena toh bangunan itu pula yang menjadi simbol kebesaran Panji Gumilang hingga menghadiahkan dirinya sendiri nama ke-100 dari asmaul husna, Al Muqti. Program perkebunan, jati emas, perikanan dan peternakan sapi yang dikembangkannya terbungkus dengan titel Al Muqti dan premis ”ma’sum”-nya seorang imam, mampu membutakan semua jamaah NII akan kegagalan yang telah terlihat jelas didepan mata. Atau alternatif lain, mungkin hanya menjadi underbow partai besar yang membayar. Toh NKRI masih toleran kepada Al Zaytun karena didukung oleh tokoh-tokoh besar yang pada dasarnya membutuhkan banyak hal dari Al Zaytun, dari uang, suara hingga money laundering. Selain itu, NKRI juga masih butuh kambing hitam suatu saat untuk segala pembiaran yang telah dibuatnya jika kelak masyarakat muslim meminta pertangungjawaban pemerintah akan korban-korban NII KW9.
Terakhir, satu hal yang menjadi ikatan utama semua program NII adalah repelita yang telah berakhir sejak bulan Shafar tahun 1430 atau tahun 2009 lalu. Seharusnya tahun 2009 merupakan tahap akhir perjuangan jamaah NII yang menghadiahkannya dengan futuh. Tapi toh, kalkulasi politik Panji Gumilang meleset. Yang harus dipahami jamaah NII adalah bahwa setelah shafar1430 tidak ada lagi program repelita yang mencanangkan futuh. Bahkan tidak ada keputusan apapun yang digagas dalam syuro untuk menyusun titik akhir perjuangan. Yang berarti, program pencarian dana tidak akan pernah ada akhirnya. Dan jamaah yang ada akan terus menjadi sapi perah hingga mengenyangkan perut-perut tuannya. Bila hanya menghasilkan generasi taat buta dan lemah, pendidikan apa yang telah dibuat Panji Gumilang beserta anteknya?. Pantas bila Allah menghancurkannya secara perlahan untuk menjadi ibroh bagi para jamaahnya yang terbutakan dari Islam.
Dicky Cokro.. NCC
JEJAK AKTIFIS NII JAKARTA DI JAWA TENGAH
28 Juli 2010Indikator kesulitan pemasukan dana serta perekrutan jamaah di kalangan NII KW9 untuk wilayah Jakarta Raya sudah mulai terlihat sejak dua tahun terakhir. Hingga bulan Juli 2010, NCC mencatat penurunan drastis perekrutan jamaah dan pemasukan dana NII Jakarta. Per bulan Juli 2010 saja, pembaitan hanya berkisar 5-6 orang per hari, jauh dari quota hijrah, 20 orang perhari untuk pria dan 20 orang per dua hari untuk wanita. Begitu juga untuk pendanaan yang biasanya mampu menghasilkan 10,5 Milyar, kini hanya mencapai kisaran 4-5 Milyar saja, itupun tidak sepenuhnya dari jamaah. Penurunan tersebut menjadikan perekrutan jamaah dan pencarian dana ini paling banyak ditopang dari dua distrik NII di Jakarta, yaitu Distrik Pulogadung dan Distrik Cilandak. Dua distrik tersebut memiliki latar belakang jamaah yang berbeda, Pulogadung terdiri dari jaringan buruh sedangkan Cilandak jaringan mahasiswa. Modus pencarian dana yang digunakan pun berbeda, Pulogadung menggunakan pola relawan yang meminta sumbangan dari masyarakat RI di setiap ATM, SPBU, Mal bahkan dari rumah ke rumah dengan membawa proposal serta amplop dengan cover yayasan yatim piatu. Dilain tempat, Cilandak masih mengunakan pola penipuan kepada orang tua serta pengembangan sentra ekonomi dari restoran, koperasi, Event Organizer (Daun Production) serta NAC Motivational Training yang dimotori oleh Arief Adinoto.
Kondisi sulit ini menjadi perhatian pimpinan NII wilayah Jakarta. Apalagi dengan kenyataan bahwa beberapa daerah sudah hampir hancur, baik dalam struktural maupun kekuatan jamaahnya. Beberapa daerah yang sudah dalam tahap krisis adalah NII Daerah Jakarta Barat, Jakart Pusat, Jakarta Utara, Bekasi serta Tangerang. Sementara Banten Utara maupun Selatan hanya berjalan di tempat walau tidak mengalami penurunan drastis. Dari keprihatinan ini, pada syuro awal tahun 1413 H, para pimpinan NII wilayah Jakarta menyerukan untuk mencontoh gerakan NII di Jawa Tengah yang mampu menghasilkan dana besar dengan kemampuan jamaah yang relatif lebih kecil dari Jakarta. Hal itu pun diamini oleh semua daerah di wilayah Jakarta dengan mengadopsi sistem pencarian dana di Jawa Tengah dengan membentuk yayasan-yayasan yatim piatu dan mengerahkan jamaah untuk menjadi relawan. Selain itu, setiap distrik juga membentuk tim khusus yang bergerak untuk mencari dana dan mulai melakukan pembelian tanah-tanah untuk pembangunan rumah-rumah serta pertanian. Program ini dilakukan di Jakarta Timur dengan nama ”Seribu Kampung Harapan”. Sementara Jakarta Selatan membentuk Event Organizer selain Daun Production untuk meraih dana lewat pelaksanaan acara-acara di instansi pemerintah maupun swasta. Beberapa waktu lalu, pada hari AIDS sedunia, mereka melaksanakannya dengan melobi pihak Indosat dan Pemda Jakarta. Selian itu juga membentuk lembaga-lembaga pendidikan non formil yang bersifat profit oriented sekaligus menjadi wadah perekrutan.
Untuk masalah perekrutan, wilayah Jakarta menginstruksikan untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai daerah penopang. NII Jawa Tengah sendiri sejauh ini telah mapan dalam perekrutan. Besarnya angka pendanaan ternyata juga ditopang dari selektifnya perekrutan. Dari beberapa sumber NCC yang masih berstatus jamaah NII aktif di Jawa Tengah, fokus perekrutan adalah pada eksekutif muda, pengusaha dan mahasiswa dengan latar belakang ekonomi baik. Jaringan inilah yang semakin membesar dan memberikan banyak masukan dana bagi NII di Jawa Tengah.
Untuk NII Jakarta seperti distrik Cilandak dan Pulogadung, perluasan jaringan thaifah (istilah untuk kelompok yang bergerak diluar teritorial asli mereka) di beberapa wilayah di Jawa Tengah bukan hal baru. Untuk Cilandak misalnya, mereka telah memiliki thaifah di beberapa kota di Jawa Tengah. Diikuti selanjutnya dengan distrik Pulogadung. Namun, gerakan Cilandak lebih masif dan cepat penyebarannya. Dari Cilandak, adalah Onder Distrik (ODO-setingkat kecamatan dalam struktur NII) dari Cilandak Barat, khususnya desa 05 (932205) dan 08 (932208) yang telah memiliki jaringan jamaah yang aktif merekrut di Jawa Tengah. Sumber NCC mengatakan bahwa jumlah jamaah aktif di Jawa Tengah yang dikontrol dari Jakarta, terutama dua desa dari Cilandak Barat, telah mencapai ratusan personil. Mereka tersebar di beberapa kota, yaitu Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Malang, Surabaya dan Lampung. Di setiap kota yang telah memiliki jaringan, jamaahnya terdiri dari mahasiswa dari kampus setempat. Kampus-kampus yang telah memiliki jamaah NII di Jawa Tengah dan akan terus menjadi target perekrutan adalah UNS 11 Maret, UMS, UGM, AMIKOM, UNES, UNDIP, UMP, UNBRAW, sedangkan di Lampung mereka telah merekrut beberapa mahasiswa UNILA. Namun, melihat luasnya cakupan ruang gerak mereka, maka sangat memungkinkan universitas lain di wilayah Jawa Tengah juga sudah disusupi.
Divisi investigasi NCC sejak dua tahun lalu telah menerima beberapa laporan tentang anak hilang dan kasus penipuan NII dengan berbagai modus di wilayah Jawa Tengah. Beberapa diantaranya telah melapor ke polisi, terutama untuk anak hilang di Solo. Sedangkan di Yogyakarta tahun 2010 ada kasus penangkapan 3 orang personil NII karena kasus penipuan. Belum lagi laporan biasa yang setiap hari mengalir ke NCC tentang gencarnya perekrutan NII di kalangan mahasiswa di Jawa Tengah.
Hal ini sebenarnya bukan semata-mata masalah NCC. Ini seharusnya sudah menjadi masalah negara dan masalah agama yang seyogyanya dilakukan oleh pihak kepolisian dan ulama. Namun, sepertinya itu menjadi suatu hal yang mustahil saat ini untuk mengharapkan tindakan mereka. Maka jatuh kewajiban bagi setiap muslim untuk menjadikan masalah ini sebagai fardhu ain dan menjadi amal jariyah bagi setiap diri, Insya Allah, demi menghentikan gerak langkah gerakan perusak aqidah ini dimanapun mereka berada. Caranya dengan hal yang termudah, akses informasi, sampaikan ke orang terdekat lalu sosialisasikan secara meluas. Bila mampu, ambil tindakan, dengan melapor ke polisi dan MUI. Walaupun mereka belum bergerak, paling tidak banyak laporan masyarakat tentang kasus NII, sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk diam. Kalaupun tetap diam, kita doakan agar Allah menyadarkan. Bagi pihak kampus, lakukan imunisasi bagi mahasiswa baru, karena mereka akan menjadi target utama perekrutan sejak mereka mulai aktif di kampus. Bagi keluarga korban yang anaknya terindikasi ikut NII, laporkan kasusnya ke pihak kampus agar rektorat menjadi waspada. Bagi seluruh mahasiswa muslim di Jawa Tengah, WASPADA!! Musuh sedang mengintai titik lemah kalian, jangan lengah!!. Rapatkan barisan, bulatkan tekad, satukan kata, LAWAN!! Allahu Akbar!.
Dicky Cokro NCC
SUMMARY TABLIGH AKBAR ”MENGUAK TABIR MISTERI PERGERAKAN NII” 26 JULI 2010
27 Juli 2010Memenuhi undangan dari SKI FKIP UNS SOLO pada 26 Juli 2010, tim NCC mengirimkan delegasi untuk menjadi salah satu pembicara dalam tabligh akbar yang bertajuk ”Menguak Tabir Misteri Pergerakan NII”. Dalam acara tersebut seharusnya dihadiri tiga pembicara, namun karena alasan teknis, perwakilan dari MUI tidak dapat hadir. Sehingga acara berlangsung dengan dua pembicara, yaitu Al Ustadz Dr. H. M. Muinudinillah Basri, M.A. yang mewakili tokoh Islam di Solo dan Sukanto S.IP dari tim NCC.
Tabligh akbar yang berlangsung di masjid Nurul Huda itu dihadiri lebih dari 400 peserta yang berasal dari mahasiswa UNS. Beberapa diantaranya yang hadir diduga sebagai anggota NII KW9, tapi tak berselang lama mereka keluar dari masjid setelah para narasumber berbicara dengan lugas tentang seluk beluk NII KW9.
Dimulai dari pukul 8.30 hingga 11.00, tabligh akbar berlangsung serius dan ”keras”. Ustadz Muinudinillah dengan sederet hujjah yang syar’i, baik dari Al Qur’an dan Sunnah, mengulas semua kejanggalan maupun kesesatan gerakan NII KW9 yang sebelumnya dipaparkan Sukanto. Dengan tegas beliau menyatakan bahwa ajaran NII KW9 dengan mengutak-atik Al Qur’an serta merubah ketentuan pasti yang diturunkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah merupakan sikap kufur yang akan membawa mereka ke neraka Jahannam. Beliau pun menggarisbawahi tentang shalat yang dibagi menjadi dua dalam terminologi NII KW9, yaitu shalat ritual (shalat lima waktu) serta shalat universal (aktifitas melaksanakan program NII) merupakan kekufuran. Menurutnya, shalat adalah ketentuan yang telah jelas dan merupakan kewajiban yang tidak bisa digugurkan dengan ketentuan dari manusia. Walaupun kemudian ajaran NII KW9 mendasarkan sikap mereka pada periodisasi Makiyah dan Madaniyah, menurut ustadz Mu’in, hal itu tidak memiliki dasar yang jelas. Beliau menambahkan bahwa istilah periode Makiyah dan Madaniyah adalah hanya istilah dalam perjuangan namun bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat dan ibadah mahdah lain yang telah Allah tentukan dan dicontohkan oleh Rasulullah.
Pada sesi tanya jawab terungkap beberapa fakta bahwa regenerasi aktivis NII KW9 sudah masuk ke berbagai kampus di Jawa Tengah secara umum dan Solo khususnya. Gerakan mereka telah meresahkan masyarakat kampus. Pasalnya, bukan saja merugikan pribadi-pribadi yang secara langsung menjadi aktifis NII, namun dampaknya juga besar terhadap orang tua mereka masing-masing serta civitas akademika tempat mereka menuntut ilmu. Beberapa mahasiswa yang terindikasi terjangkit virus NII dalam waktu singkat berubah drastis dalam sikap. Hal ini berdampak pada nilai akademisnya yang cenderung menurun. Bahkan ada aktifisnya yang harus mengambil cuti bahkan drop out demi beraktifitas penuh di NII. Modus-modus operandi NII di Solo tidak berbeda dengan Jakarta. Pola penipuan dengan alasan menghilangkan laptop teman serta menabrak mobil orang hingga harus meminta ganti dari orang tua mereka dengan jumlah kisaran puluhan juta rupiah membuat banyak orang tua terpaksa tapi tidak curiga memberikan dana sejumlah yang anaknya inginkan.
Menutup sesi tanya jawab, Sukanto menegaskan akan pentingnya langkah antisipasi lewat sosialisasi meluas terhadap gerakan NII KW9. Pasalnya, tim NCC mendapati bahwa jaringan yang bergerak di Solo, terutama dikalangan mahasiswa, merupakan perpanjangan tangan dari NII Jakarta yang kini kesulitan dalam perekrutan. Sukanto juga menambahkan agar mahasiswa Solo serta pihak kampus melakukan gerakan secara proaktif terhadap gerakan NII. Jangan menunggu sikap dari MUI maupun kepolisian, karena itu akan menjadi harapan yang jauh panggang dari api. Hal senada juga disampaikan ustadz Mu’in. Beliau bahkan mempertanyakan lambannya sikap MUI dan kepolisian dalam mengambil langkah strategis untuk menghentikan gerakan NII yang telah memakan banyak korban. Sebagai closing statement, ustadz Mu’in memastikan bahwa gerakan NII merupakan gerakan yang musyrik dan penuh kekufuran. Maka untuk para korbannya harus diambil langkah penyadaran. Sedangkan bagi para pelakunya harus diambil tindakan tegas. Beliau juga menghimbau akan pentingnya imunisasi bagi para mahasiswa baru yang akan menjadi target perekrutan NII.
Bagi kampus yang ingin mengadakan seminar bahaya NII alzaytun bisa menghubungi nomer layanan NCC
Setiap acara seminar juga disiarkan LIve oleh http://radiokwk.com/
By Dicky Cokro. NCC
DISKUSI PUBLIK NII MASUK KAMPUS BERSAMA EX NII KW9 ALZAYTUN
19 Juli 2010Bersama Mantan Aparat NII KW 9 Alzaytun dan Solidsaritas Keluarga Besar Korban NII ALZAYTUN (SIKAT)
Start/ Kumpul Di Aula LPPI, Jl. Tambak No. 20 B
Jakarta Pusat ( Samping RS Tambak )
Pendaftaran Gratis :
1. Via www.nii-crisis-center.com di 08985151228
2. Sdr. Ridho/Zia Ulhaq LPPI ( Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam )
3. Aliansi Mahasiswa untuk korban NII KW 9 ( Sukanto )
Menghadirkan :
1. Laksamana muda (Purn) TNI Wibisono (ex. Dansatgas Int. TNI )
2. Dr. Eggi Sudjana, SH. MSI (Kuasa Gukum )
3. KH. Kholil Ridwan, LC ( MUI Pusat )
4. Prof. Dr. Syafii Mufid , APU ( BaLitbang DEpag )
5. Suripto ( Pengamat Intelejen/ Anggota DPR F – PKS )
6. Irjen. Pol Purn Saleh Saaf (Mantan Kabaintelkam/ Kepala Badan Inteljen Keamanan ) Mabes POLRI
ACARA INI AKAN DISIARKAN LIVE OLEH RADIO STREAMING INTERNET KWK FM http://radiokwk.com/
PENGALAMAN DIREKRUT OLEH JARINGAN NII KW9 PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU
2 Juni 2010Pengalaman ini dialami oleh saudara & teman saya yang pernah masuk jaringan NII kw 9 karna dijerat oleh mereka yg telah masuk, pada tahap awal mereka yang merekrut memberikan berbagai kajian dan wawasan keagaman yang sangat menarik tanpa pernah memperlihatkan sisi kejanggalan. mereka berusaha terus menerus memupuk dan menanamkan rasa simpati sehingga akhirnya saudara saya yang sudah tergolong cukup dewasa pun masuk jaringan tersebut dengan sepenuh hati dan menaruh banyak harapan bahwa yang diikutinya akan membawa banyak perubahan yang positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kemaslahatan umat pada umumnya.
Tapi harapan itu segera musnah ketika banyak sekali kejanggalan yg dirasakannya, mulai dari banyak kekangan terhadap aktivitasnya, kewajiban untuk menyerahkan sebagian besar penghasilannya dan yang paling berat dirasakannya yaitu Menganggap orang diluar kelompoknya adalah bukan pengikut islam/kafir. serta membolehkan untuk mengambil apa yang dimiliki orang diluar kelompoknya baik diketahui maupun tidak yang bisa diartikan jg membolehkan mencuri.
sangat berat bagi saudara saya itu jika harus menganggap bahwa orang diluar kelompoknya telah diikutinya itu bukan orang islam yang sesungguhnya/kafir, saat itu semua keluarga terutama orang tuanya yang telah melahirkan merawat menafkahi sekaligus banyak mendidik tentang agama islam harus di vonis kafir. saat itu saudara saya tsb merasa benar-benar sangat galau antara harus mengikuti perintah orang2 yang merekrutnya sementara hati nuraninya berkata lain. tidak mungkin harus menganggap bahwa orang Islam sedunia diluar kelompoknya adalah orang kafir terutama orang tua yang telah mengenalkan dan mengajarkan tentang agama Islam.
Tetapi kegundahan hatinya trsbt tidak cukup untuk segera menyadari tetang kesesatan kelompok yang telah diikutinya itu, karna disisi lain orang2 yg jadi pimpinan di kelompoknya itu tidak membiarkan saudara saya untuk banyak berinteraksi baik dengan teman2 maupun keluarganya. setiap saat selalu dipantau baik melalui handphone maupun didatangi langsung. setiap saat hari-harinya benar-benar selalu dalam kendali pimpinannya yang selalu mendoktrinasi.
Nuraninya yang selalu merasa banyak kejanggalan merasa tidak berdaya karna pengaruh pimpinan di jaringannya itu jauh lebih intens mempengaruhinya dengan segala cara baik itu melakui ayat2 Qur’an maupun dengan segala retorikanya tentang perjuangannya yang akan segera Futuh. singkat cerita suatu waktu saudara saya yg telah masuk jaringan jaringan NII kw9 Al Zaytun itu hendak berusa merekrut saudara temannya. kebetulan tamannya yang akan direkrutnya itu seorang ustadz yang sudah tau betul mengenai NII kw9 Zaytun, akhir bukan saudara saya yang menceramahi tetapi malah diceramahi sama teman yang akan direkrutnya itu. sisi positif dari pertemuan keduanya itu adalah kembalinya menguat hati nurani saudara saya itu yang sebenarnya merasakan sekali banyak kejanggalan tentang ajaran yang telah diikutinya, tetapi karna selalu dibawah kendali pimpinan serta orang-orang yang menjeratnya akhirnya tidak berdaya.
Disisi lain saudara saya jg sudah merasa berat dengan adanya kewajiban harus menyerah berbagai macam infak yg wajib untuk dipenuhinya hingga harus menyerahkan sebagian besar penghasilannya untuk diserahkan kepimpinannya. hingga akhirnya dengan nasehat temannya saudara saya itu memberanikan diri untuk keluar dan segera menjauh orang-orang dikelompoknya, sebagai resikonya saudara saya mengalami banyak sekali ancaman.
Yang paling berkesan baginya yaitu ketika didatangi ke tempat kerjanya lalu diajak kebelakang dan diancam mau dibunuh karna mereka beralasan orang yang keluar dari kelompoknya darahnya sudah halal untuk di tumpahkan, tentu saja saudara saya trsbt syok hingga akhirnya jatuh sakit meskipun akhirnya benar-benar bisa terlepas sepenuhnya berkat dukungan dan nasehat temannya yang pernah mau ditilawah atau direkrutnya.
Satu hal yang membuatnya merasa sangat bodoh, yaitu ketika merasa mendapat banyak ancaman tetapi tidak berani menceritakan hal tersebut kebanyak orang baik itu keluarga maupun lingkungan terdekat lainnya apalagi berani melaporkan masalahnya ke polisi.
Itu semua karna selama didalam selalu di doktrin bahwa diluar kelompoknya adalah kafir hingga akhirnya secara psikologis dirinya merasa jauh dari keluarga teman2nya termasuk juga masyarakat. yang jelas sekarang saudara saya itu merasa sangat trauma dengan pengalamannya yang pernah terjerat NII KW 9 Al Zaytun. setelah saya banyak membaca di situs ncc ternyata banyak jg cerita lainnya dari yg pernah masuk. yang saya tulis ini hanya sepenggal dari pengalaman saudara saya, karna keterbatasan waktu saya tidak dapat menceritakan semuanya termasuk pengalaman teman saya sendiri yg pernah terjerat juga.
INFO lENGKAP KLIK : http://www.facebook.com/pages/wwwnii-crisis-centercom/223278758297
SELURUH PELAKU TERORIS ADALAH SEMPALAN DARI JAMAAH DI TII / NII DAN NII KW9 PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU
13 Mei 2010Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Hambali (DPO Teroris Yang di tangkap A.S ), Heri Gulun ( Pelaku Bom Kuningan ), Asmar latin Sani ( pelaku Bom Marriot ) juga berasal dari gemblengan NII. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam atau menegakkan syariat Islam di Indonesia.
ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).
Seiring dengan penangkapan SMK pada tahun 1962 melalui sebuah operasi “Pagar Betis” yang cukup legendaris di kalangan aktivis NII, gerakan NII mulai terpecah menjadi beberapa faksi–meski ada yang bilang sebenarnya faksi itu hanya merepresentasikan basis wilayah gerakan saja.
Nah, di era tahun 1970-an dan 1980-an, muncul beberapa nama tokoh NII lanjutan, seperti Adah Djaelani (Mamak), Abu Darda, Rahmat Tahmid Basuki (keduanya putra SMK), dan Ajengan Masduki yang berbasis di Priangan. Sementara di Jawa Tengah, muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Menurut kalangan dalam NII, Abdullah Sungkar ketika itu adalah Amir NII Wilayah III Jateng, sedangkan Abu Bakar Baasyir adalah figur kepercayaan Abdullah Sungkar. Menurut kalangan dalam, baik Sungkar maupun Baasyir berbaiat kepada H. Ismail Pranoto (Hispran) pada tahun 1976–meskipun kemudian hal itu dibantah dalam pleidoi mereka.
Sungkar dan Baasyir pun kemudian bahu membahu dengan para tokoh DI lain, seperti Danu Muhammad Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani, dan Gaos Taufik. Sebagai catatan, Danu Muhammad Hassan adalah ayah dari Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin. Ketika para tokoh DI ini dituduh melakukan beberapa aksi teror, seperti pemboman Gereja Methodis di Medan, pemerintahan Soeharto mulai mengambil tindakan represif. Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto (Hispran), Gaos Taufik, Danu Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll. Mereka dituding terlibat gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.
Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat keamanan belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir dalam gerakan Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara Abu Bakar Ba’asyir lebih aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar dikenal keras. Salah satu tema paling ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi.
INFO LENGKAP KLIK LING BERIKUT TERORIS ADALAH SEMPALAN DARI DI TII / NII