POLITIK BARTER DAN BALAS BUDI
Dengan gencarnya serangan – serangan miring ( yang memang sebenarnya adalah miring dan sesat ) terhadap existensi Ma’had Al Zaytun dan focusnya diarahkan ke salah satu sosok yaitu AS Panji Gumilang, baik itu dari Website / blog Anti NII maupun Mantan Gerakan NII yang telah Insyaf ( yang mantan pentolan aktivis NII IX Abu Toto yang memang tahu akan sejarah, sepak terjang dan sosok seorang Abu Toto/ AS Panji Gumilang yang sesungguhnya ), FUUI [ Forum Ukhuwah Ummat Islam Indonesia] , MUI, para ulama dan kyai dll, baik itu yang terexpose dimedia massa cetak, buku dan elektronik. Sudah pasti seorang AS Panji Gumilang merasa terpukul dan tersudutukan 380 derajat dengan adanya berita – berita tersebut, terlebih hal privacy yang teramat pribadi bisa diketahui oleh publik ummat islam. Tentu hal ini merupakan pukulan telak diluar perkiraan sebelumnya, sekaligus sangat membahayakan bagi masa depan proyek Al Zaytun [ yang prestisius dan misterius ] yang telah dirancang matang sebelumnya dengan kroni – kroninya, yang mana pada saat – saat tersebut Al Zaytun baru perdana membangun sarana pendidikan yang bernama gedung pembelajaran ‘’ Abu Bakar Sidiq ‘’.
Sebagai kilas balik dan contoh adalah, bagaimana AS Panji Gumilang dan pimpinan territorial KW IX yang mengintruksikan seluruh jajaran dan anggotanya untuk membeli dan membaca buku ‘’Reformasi Prematur ‘’ nya Al Chaidar dimana didalam bukunya diceritakan tentang skeptisime terhadap reformasi yang digulirkan dibalik tokoh – tokoh RI yang dimaksud. Namun tidak terlalu lama, dikemudian hari ada intruksi dari pimpinan teritorial yang melarang membaca buku Al Chaidar dan statement yang mengatakan bahwa Al Chaidar adalah anak yang durhaka kepada AS Panji Gumilang, kepada jajaran – jajaran dibawah dan anggotanya.
Dengan satu buku ‘’ Reformasi Prematur ‘’ nya Al Chaidar ( sebelum konflik ), AS Panji Gumilang bisa mempolitisasi keadaan tersebut ke jajaran bawahan dan anggota – anggota jamaahnya, demi keuntungan politis. Lalu bagaimana dengan buku yang isinya tentang pelanggaran HAM dan kejahatan dirinya yang telah dilakukan AS Panji Gumilang terhadap ribuan ummat islam yang telah menjadi korbannya, tentu dampaknya sangat besar terhadap citra Al Zaytun dimata ummat islam, sehingga akan mempengaruhi minat para orangtua menyekolahkan anaknya ke Al Zaytun. Tentu AS Panji Gumilang yang cerdik sekaligus licik [ karena disteoretip dan dididik secara intelligent serta Soehartois ], maka dia kemudian menerbitkan majalah Al Zaytun tahun 2001 sebagai counter sekaligus sebagai alat propaganda untuk kepentingan internal ( agar tidak timbul gejolak dan exodus besar – besaran dari anggotanya ) dan eksternal. Namun AS Panji Gumilang menyadari sesadar – sadarnya setelah satu setengah tahun perjalanan majalah Al Zaytun, tetapi berita – berita miring dari luar semakin tidak bisa terbendung intensitas serangan dan jumlahnya baik dimedia massa cetak dan elektronik dan tidak sebanding kalau diimbangi/ ditandingi dengan berita – berita sepihak yang ada di majalah Al Zaytun, yang tentunya aroma propaganda dan subyektifitasnya lebih tinggi daripada nilai obyektifitasnya. Dan cepat atau lambat ini akan menjadi bom waktu bagi Al Zaytun dan AS Panji Gumilang.
Berangkat dari pemikiran inilah AS Panji Gumilang lalu melakukan pendekatan – pendekatanpolitik barter dengan media – media yang selalu santer memuat berita – berita buruk tentang Al Zaytun, adapun media – media cetak yang tadinya kritis namun tidak sanggup mempertahankan idealisme [ kemandirian ] pers lagi, karena mungkin lebih terbentur oleh kepentingan – kepentingan korposari, pemilik modal dan oplah serta bisa diakomodir oleh kepentingan AS Panji Gumilang dengan jaringan aparat territorial dan anggota jamaahnya serta jumlah santri yang demikian besar, tentu bisa dijadikan pertimbangan dan kalkulasi bisnis yang saling menguntungkan dikedua belah pihak, disatu sisi pihak media majalah diuntungkan karena akan menaikkan oplahnya sekian puluh ribu exemplar lalu dikalikan dengan sekian nominal dst, sesuai dengan jumlah permintaan yang dinginkan AS Panji Gumilang, lalu AS Panji Gumilang mendidtribusikan kepada wilayah networknya baik yang diteritorial di Jakarta, Banten, Surabaya, Bekasi dan Bandung serta jumlah santri yang ada di Ma’had Al Zaytun yang merupakan pasar yang potensial dibawah otoritas mutlak AS Panji Gumilang. Sehingga tidak aneh kalau tabloid, majalah, Koran yang mengupas Al Zaytun secara positif dijual secara bebas di ruang koperasi, diruang penerimaan tamu, namun jangan tanya jika buku, tabloid, koran, majalah yang isinya memojokkan AS Panji Gumilang dan Al Zaytun tidak akan diketemukan secarik kertaspun [ red; dilarang keras sekali ] atau dijual disini.
Berdasarkan pengamatan, monitoring kami dan fakta – fakta dilapangan ada beberapa media yang melakukan praktek – praktek kerjasama diatas diantaranya adalah sbb ;
1. Majalah mingguan, berinisial ‘’ G ‘’.
Sebelumnya kami mengagumi akan keberanian berita – berita investigasi yang menampilkan Al Chaidar [ sebagai representasi dari mantan korban ] yang menyudutkan Abu Toto alias AS Panji Gumilang atau Al Zatyun, dan melakukan reportase – reportase atas korban – korban NII KW IX Abu Toto secara intensif dan kontinyu, namun anehnya antara bulan November – Desember tahun 2001 hingga tahun keatasnya beritanya justru malah sebaliknya, bahkan lebih condong memihak dan dominan menampilkan sosok AS Panji Gumilang beserta Al Zaytun secara rutin yang penuh kontroversi tersebut, tidak itu saja ternyata agen – agen jurnalis AS Panji Gumilang juga dimobilisasi sedemikian rupa oleh AS Panji Gumilang untuk secara kontinyu di media tersebut membuat opini – opini sensasi dan propaganda kepada publik melalui tulisan – tulisannya agar positif thinking terhadap existensi Al Zaytun dan sosok Abu Toto alias AS Panji Gumilang, bahkan salah satu artikelnya yang ditulis oleh ‘ Sarifudin ‘ ( yang sering berlindung dibalik identitas dan menamakan dirinya sebagai ‘’pemerhati pendidikan islam ‘’ yang menyanjung AS Panji Gumilang setinggi langit dan membangga – banggakan begitu hebatnya Al Zaytun, notabene tak lain tak bukan ternyata ‘ Sarifudin ‘ ini adalah petinggi territorial KWIX Abu Toto yang memang masih aktif dan dibawah langsung garis komando kepemimpinan AS Panji Gumilang, hal ini diakui oleh mantan – mantan anggota Tibmara. Dengan adanya informasi demikian semakin menegaskan bahwa adanya usaha – usaha dari pihak AS Panji Gumilang cs untuk meredam suara – suara negatif pers ke arah dirinya, demi kepentingan politis internal dan external.
Kepentingan politis internal AS Panji Gumilang bisa dilihat dari effect pemuatan – pemutan berita – berita positif tersebut, melalui pimpian territorial masing – masing , lalu majalah – majalah tersebutdidistribusikan terhadap jajaran dibawahnya dan anggota – anggota jamaahnya. Majalah, koran ataupun tabloid yang memuat tentang berita yang positif terhadap Al Zaytun dan sosok As Panji Gumilang dijadikan alat referensi satu – satunya sebagai rujukan dan penambah semangat, dengan kredo ‘’ inilah bukti pengakuan dari luar ‘’ terhadap apa – apa yang kita kerjakan dan perjuangkan benar – benar nyata, apakah anda akan percaya dengan suara – suara miring dari luar kepada kita, itu hanyalah bualan orang – orang gila dan kafir. Dengan kondisi demikian maka jajaran dan anggota jamaahnya yang sudah menderita, baik secara pyhsik dan psikis karena pemerasan dan program – program yang ditargetkan, sedikit terobati/ terhibur sehingga tidak ada perasaan sedikitpun dari dirinya untuk mau keluar atau lari dari tanggungjawabnya diidariah setelah membaca berita – berita tersebut meski pada kenyataannya semu belaka dan rekayasa AS Panji Gumilang semata.
Kepentingan politis external adalah dapat mengembalikan citra atau nama baik AS Panji Gumilang dan Al Zaytun di mata ummat islam yang sebelumnya sudah buruk karena adanya statement – statement dari korban NII KWIX Abu Toto yang mengadukan kepada institusi – institusi yang berkompeten. Apalagi misi ini dilakukan serentak kepada banyak media, mendatangkan tokoh, pejabat, intelektual muslim yang pro terhadap AS Panji Gumilang dan Al Zaytun [ karena buta sama sekali tentang sejarah, maka asal bunyi saja ], sehingga seolah semakin mepertegas pembelaan mereka terhadap keberadaan Al Zaytun agar tidak bisa diganggu gugat atau dibubarkan dengan dalih sebagai asset bangsa.
Penulis memahami posisi pers dimanapun yang terkunkung dalam lingkaran cengkraman kapitalisme local dan global, ketika berbenturan dengan pemilik modal, orang – orang kuat yang kebal hukum serta korporasi selalu akan membentur tembok dinding batusehingga kehilangan idealisme pers; pers yang tidak lagi jujur, pers yang tidak lagi berani berkata tidak, pers yang tidak lagi obyektif, pers yang tidak lagi amanah, pers yang tidak lagi punya keteguhan iman dan pendirian.
2. Surat Kabar Harian, inisial ‘’ P ‘’
3. Surat Kabar Harian, inisial ‘’ SK ‘’
4. Majalah keluarga, inisial ‘’ A ‘’
5. Majalah jurnal , inisial ‘’ T ‘’ .
6. Dan lain – lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Untuk media cetak nomor 2 dan 3 bahkan Al Zaytun dikasih dispensasi langganan gratis sekian waktu tahun masing – masing per item lima [ 5 ] sampai 8 [delapan ] exemplar per satu hari terbit. Makanya ada kecurigaan dari pihak muadhof/ karyawan pembangunan ketika ada paksaan harus berlangganan majalah ‘’ G ‘’ namun karyawan pembangunan menolaknya mentah – mentah dikarenakan gaji bersihnya saja, setelah dipotong sana sini antara Rp. 50.000 sampai dengan paling besar Rp. 100.000 lalu bagaimana mereka kalau diwajibkan berlangganan empat kali dalam sebulan, apakah tidak tambah berat lagi buat mereka, apalagi ada saksi yang mempergoki bahwa ternyata majalah, berinisial ‘’ G ‘’ diturunkan dari kendaraan pengangkut, yang selanjutnya akan dibagikan kepada pimpinan - pimpinan territorial yang datang setiap hari jum’at. Bahkan ada pengakuan exsponen majalah Al Zaytun yang keceplosan ngomong kalau telah ada kerjasama diantara media – media tersebut. Ini menandakan bahwa AS Panji Gumilang takut sekali terhadap media – media yang berusaha memojokkan berita – berita Ma’had Al-Zaytun dan dirinya. Karena proyek dibalik Mahad Al Zaytun akan hancur dan berantakan semua jika dampakya sangat mempengaruhi publik ummat islam Indonesia.
POLITIK ADU DOMBA & KONFLIK INTERNAL ” YASIR VS AS PANJI GUMILANG “
Politik adu domba ternyata bukan monopoli penjajah Belanda, rezim Orde Lama, rezim Orde Baru saja untuk memporak – porandakan dan melemahkan kekuatan dan persatuan ummat islam yang ada dikalangan bangsa Indonesia, kalau cara – cara konvensional dengan mentaati isi – isi perjanjian yang disepakati antara tokoh – tokoh perjuangan Indonesia/ tokoh – tokoh idealis tapi tidak menghasilkan keuntungan di pihak Belanda/ penguasa yang sedang berkuasa maka cara – cara licikpun akan ditempuhnya, apakah dengan menghalalkan segala cara, fitnah, memutarbalikkan fakta, menikam dari belakang, menjebak, menghasut sana – sini, menuding kearah lawannya dengan ini itu, tapi empat jari telunjuknya sendiri sesungguhnya mengatakan bahwa dialah sebenarnya biang kerok yang sesungguhnya.
Ilustrasi ini untuk menggarisbawahi ketika pecah konflik besar antara kubu Tibmara ( red: biro agen mata – mata/ orang – orang kepercayaan AS Panji Gumilang ) dan Garda Ma’had yang dikomandoi oleh Yasir cs melawan kubu AS Panji Gumilang cs. ( red: Pimpinan tertinggi Ma’had Al Zaytun yang nota bene adalah Imam NII IX Abu Toto ) yang terjadi awal bulan September 2001 hingga berlanjut sampai pada acara pelaksanaan perayaan POSPENAS ( Pekan Olahraga dan Seni Santri Nasional ) 28 Oktober – 01 November 2001, bahkan lebih dari waktu tersebut. Sebelum konflik terjadi, pada awalnya pihak anggota – anggota Tibmara sudah mencurigai/ mencium adanya gelagat – gelagat tidak baik dari AS Panji Gumilang, dan temuan – temuan itu terus dilaporkan kepada Komandan Tibmara yaitu Yasir, Namun Yasir sendiri meragukan laporan anak buahnya ( jumlah anggotanya kurang lebih 100 orang ), apa iya Syakh Al Ma’had melakukan itu. Tapi karena seringnya laporan – laporan tersebut datang, maka tidak ada pilihan bagi pihak Yasir untuk mengecek kebenarannya, yaitu dengan memancing agar apa yang selama ini cuma menjadi laporan – laporan, tapi memang benar – benar terbukti. Adapun laporan – laporan yang dimaksud adalah seperti :
a). Dana revolusi/ dana abadi NII yang berupa emas batangan yang telah dicairkan oleh AS Panji Gumilang.
b). Imam Prawoto ( red: anaknya AS Panji Gumilang/ sekaligus pengarah besar Majalah Al Zaytun ) menyalahgunakan uang Majalah Al Zaytun untuk kepentingan bisnis dan pribadi.
c). Pelanggaran – pelanggaran indispliner dari anak – anaknya AS Panji Gumilang tetapi tidak ditindak tegas.
d). Toserba Al Zaytun yang telah menjadi ajang bisnis saudara AS Panji Gumilang ( padahal diketahui dia bukan orang dalam ).
e). Dana – dana yayasan yang disalahgunakan masuk kantong/ rekening pribadi dan permainan bisnis valuta asing tanpa adanya transparansi dan pertanggungjawaban, sehingga yayasan mengalami krisis keuangan dan defisit anggaran.
f). Sebagai Imam NII KW IX tidak mempunyai aklaqul kharimah sekaligus tidak melaksanakan kewajiban infaq dll ( tidak seperti layaknya anggota jamaahnya yang mati – matian menyetor keawajibannya).
g). Ma’had Al-Zaytun hanya dijadikan sebagai medan magnet dan tunggangan/ kendaraan politik untuk menghimpun emosi massa ummat islam, lalu setelah ummat bisa bisa dikuasai maka AS Panji G. akan membuat partai politik untuk mewujudkan obsesi dirinya menjadi presiden RI.
h). Sering datangnya AS Panji G. ke cendana ( Soeharto ),’’semakin membuktikan perjuangan islam telah ditikam dari belakang, dengan persekongkolan jahatnya, hingga membuat Tibmara & Garda Ma’had berbalik menentangnya dan terjadinya konflik.
Selengkapnya kLik http://www.nii-crisis-center.com/propaganda-politik-di-nii-kw9-pesantren-al-zaytun-indramayu