Bayi Mati mengenaskan Di Al-Zaytun

Konsultasi MUI


K.H Mahruf Amin

0816790343

Amidhan

081172000

Aminudin Yakub

0818404946

K.H Kholil Ridwan

0816882911

BAYI YANG MATI MENGENASKAN GARA – GARA SUAMINYA TIDAK BOLEH PULANG UNTUK MENGURUS ISTRINYA YANG LAHIRAN SUNGSANG

Cerita – cerita atau pengakuan – pengakuan yang dialami beberapa muadhof yang istrinya mau melahirkan tapi sang suami tidak boleh diijinkan untuk menjaga istrinya yang mau lahiran di rumah sakit/ bidan adalah hal biasa atau istilah AS Panji Gumilang harus tega sepertinya sudah menjadi doktrin dan garis perintah yang wajib dipatuhi dan tidak boleh ditolak bagi muadhof. Inilah kejahatan HAM yang kentara sekali ketika Ma’had Al Zaytun sedang diawal – awal pembangunan, yang bertolak belakang sekali 380 derajat dengan motto, Ma’had AL Zaytun, ‘’ Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi, serta Pengembangan Budaya Perdamaian ‘’. Ternyata apa yang menjadi slogan – slogan dalam mottonya itu semu dan palsu belaka, mana ada toleransi kemanusiaan dalam kasus ini, terkecuali hanya untuk menutup – nutupi kejahatannya sendiri agar tidak kelihatan atau tercium oleh dunia luar. Tentu dengan kebijakan yang sangat tidak manusiawi tersebut yang terus – menerus terjadi akibatnya menjadi fatal, sehingga terjadilah kisah tragis ini ; kemarahan seorang istri muadhoh yang membawa mayat bayinya yang dibungkus kardus mie untuk dihadiahkan kepada personalia Ma’had Al Zaytun.

Sebut saja namanya Ahmad, ketika itu dia sudah tahu kalau kemungkinan dalam waktu – waktu dekat [ dalam hitungan beberapa hari ] bahwa istrinya akan segera melahirkan sehingga nantinya dia bisa atur kira – kira kapan waktunya untuk ijin. Namun sayang seribu kali sayang ternyata apa – apa yang telah menjadi pikirannya, pas saatnya tiba ketika itu sedang bekerja dia dapat informasi dari rekan kerjanya yang baru datang dari silaturahmi keluarga, agar segera pulang untuk mengurusi istrinya yang mau lahiran. Ia yang berada di Ma’had Al Zaytun segera berinisiatif segera mengajukan ijin untuk meninggalkan tempat kerja karena istrinya akan segera melahirkan. Tapi tak disangka – sangka malah ijinnya ditolak mentah – mentah oleh pihak ‘’ Abbas Ali Nasution ‘ personalia Ma’had Al Zaytun, sekalipun dia sudah berusaha dengan sangat memohon namun tak digubrisnya. Sehingga tak ada pilihan lain kecuali dia menerima keputusan itu dengan penuh rasa dongkol dan sakit hati yang mendalam, tunggu punya tunggu ternyata istri Ahmad sudah terlalu lama menunggu suaminya tetapi tidak datang – datang juga, apalagi istrinya selalu menyebut – nyebut nama suaminya untuk segera datang , karena dalam posisi gawat darurat yaitu bayi yang mau dilahirkan dalam keadaan sungsang, tentunya teman – teman atau tetangga – tetangga istrinya Ahmad yang menunggui dan menjaganya bingung dan kalut luar biasa, kok kenapa Bapaknya tidak datang – datang padahal istrinya dalam keadaan seperti sakrataul maut. Untuk menjaga perasaan istrinya ia pesan dan menulis surat unuk istrinya yang dititipkan temannya yang pulang silaturahim.

Singkat cerita bahwa ketika surat sampai ke alamat istrinya Ahmad, beritanya sudah terlanjur basi karena bayi yang mau dilahirkan dalam keadaan sungsang tersebut akhirnya meninggal dunia, inalillahi wa innalilahi rajiun. Selepas istrinya membaca surat dari suaminya itu yang isinya mengatakan bahwa ia tidak bisa pulang karena tidak diijinkan oleh pihak personalia Ma’had Al Zaytun, seperti punya rasa sakit hati yang dalam dan dendam yang membara. Sehingga selang satu hari pasca dia melahirkan ia nekat dan tak perduli dengan kondisi kesehatan yang masih lemah, ia ingin bertemu dengan personalia yang tidak boleh mengijinkan suaminya untuk pulang, padahal keadaan istrinya membutuhkan pertolongan atau didampingi suaminya. Lalu dengan amarah yang terpendam istrinya membungkus mayat bayi tersebut untuk dihadiahkan dan diserahkan kepada pihak personalia. Lalu iapun pergi segera ke Al Zaytun, ketika ia sampai di Al Zaytun ia diperiksa pihak keamanan, mau kemana umi,’’ begitu pertanyaan garda ma’had/ si satpam, kemudian dijawab istrinya Ahmad dengan mengatakan,’’ saya ingin bertemu dengan personalia, ini ada hadiah dari saya,’’
Pasca penyerahan mayat bayi tersebut seluruh muadhoh geger mendengarnya, namun dari pihak personalia dan AS Panji Gumilang sengaja meredam berita tersebut agar jangan sampai didengar oleh pihak santri, guru – guru terlebih tamu – tamu. Dari kasus yang terungkap ini membuktikan bahwa AS Panji Gumilang bukanlah orang yang berjiwa Syakh sebagaimana mestinya, tapi adalah jelmaan iblis yang menyamar sebagai Syakh.

Tim NCC

  • Share/Bookmark