COVER MAJALAH AL-ZAYTUN EDISI II FEB 2000, MENANTANG KERAS UMMAT ISLAM !

Konsultasi MUI


K.H Mahruf Amin

0816790343

Amidhan

081172000

Aminudin Yakub

0818404946

K.H Kholil Ridwan

0816882911

Anda punya majalah Al-Zaytun edisi II Februari 2000, coba lihat seksama dan kaji lebih dalam ilustrasi covernya, karena dalam ilutrasi tersebut ada tersirat makna filosofisnya yang mengandung kesombongan luar biasa sekaligus pelecehan dan penantangan terhadap ummat islam yang mencoba menghantamnya ( baca: ulama, kyai, FUUI, MUI, Al-Chaidar, Umar Abduh, M. Amin Jamaludin/ LPPI, SIKAT dll disimbolkan sebagai ombak/ badai ). Dalam cover tersebut digambarkan ada lautan yang penuh gelombang dan badai yang menghadap dan mencoba menerjang benteng Al-Zaytun, namun terjangan, serangan dan hantaman gelombang badai tersebut seeolah – olah tidak sedikitpun memberikan dampak kerusakan dan kehancuran terhadap benteng Al-Zaytun, kecuali hanya goresan kecil yang membuat lecet dindingnya saja. Dalam iliustrasi cover tersebut ada yang perlu dicatat, yaitu adanya satu kejanggalan dan sepertinya kejanggalan itu sengaja diciptakan agar ada kesan Al-Zaytun/ AS Panji G. itu kuat dan perkasa dan lawan – lawanya adalah buih yang tiada arti baginya, dimana yang semestinya panorama di dekat laut yang penuh gelombang dan badai, tentu gambar logis disampingnya adalah batu karang. Namun dalam ilustrasi cover ini Al-Zaytun / AS Panji G. memvisualikan dirinya sebagai benteng kokoh yang terus mengibarkan bendera ideologi kesesatannya NII KW IX Abu Toto, tapi bukan digambarkan sebagai batu karang, hal ini semakin mempertegas kecongkakan dan penantangan AS Panji G. secara terbuka pada ummat islam. Penulis dalam hal ini tidak sembarangan melakukan suatu kesimpulan subyektif dan emosi massa masa lalu sebagai acuan, namun didasarkan atas fakta yang ada, yaitu ketelodaran Ahmad Zaeem M ( dewan redaksi majalah al-zaytun, anaknya AS Panji G. ) yang mengetes penulis, coba terka apa makna filosofisnya dari cover tersebut, lalu dalam kesempatan itu dia menambah sedikit keterangan – keterangan yang penulis kemukakan, yang membuat penulis tercengangkan, tidak habis pikir dan tidak percaya akan hal yang diungkapkannya ( kebetulan saat itu belum ada konflik besar antara Tibmara vs AS Panji G. Seiring waktu berjalan, waktupun membuktikan siapa yang sebenarnya sahabat/ kawan perjuangan dan musuh dalam perjuangan islam. Hal ini dirasakan olehnya, ketika penulis melarikan diri dari Al-Zaytun, bertanya pada kawan – kawan kami, kenapa dia sampai keluar. Penulispun balik bertanya,’’ apa dia ( Ahmad Zaeem M ) tidak tahu, jika ternyata ayahnya ( AS Panji G. ) adalah menggunting kain dalam lipatan, semenjak itu penulispun tidak punya selera akan adanya ikatan emosional yang terbentuk sebelumnya.