<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.nii-crisis-center.com</title>
	<atom:link href="http://www.nii-crisis-center.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nii-crisis-center.com</link>
	<description>FORUM Konsultasi &#38;  Pengaduan  Call Center Online 24 Jam   08985151228   -  08567899431 -   087737707351 - 085211231363 - 083896124024</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Aug 2010 15:04:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BUKU : KENAPA DULU AKU MASUK NII ALZAYTUN</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/bukiu-kenapa-dulu-aku-masuk-nii-alzaytun.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/bukiu-kenapa-dulu-aku-masuk-nii-alzaytun.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 07:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2516</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah Team NCC telah menyelesaikan buku &#8221;  KENAPA DULU AKU MASUK NII, Sebuah Refleksi MATERI CUCI OTAK/ DOKTRIN  ajaran NII ALZAYTUN &#8221; 
Infak 50.000, transfer via BANK BNI NO REK  0198716765
Pemesanan/konfirmasi hub 08985151228 ( 24 am )
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span>Alhamdulillah Team NCC telah menyelesaikan buku &#8221;  KENAPA DULU AKU MASUK NII, Sebuah Refleksi MATERI CUCI OTAK/ DOKTRIN  ajaran NII ALZAYTUN &#8221; </span></h3>
<h3><span><strong>I</strong>nfak 50.000, transfer via BANK BNI NO REK  0198716765</span></h3>
<h3><span>Pemesanan/konfirmasi hub 08985151228 ( 24 am )</span></h3>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fbukiu-kenapa-dulu-aku-masuk-nii-alzaytun.htm&amp;linkname=BUKU%20%3A%20KENAPA%20DULU%20AKU%20MASUK%20NII%20ALZAYTUN"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/bukiu-kenapa-dulu-aku-masuk-nii-alzaytun.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NII, Komando Jihad dan Orde Baru</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/nii-komando-jihad-dan-orde-baru.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/nii-komando-jihad-dan-orde-baru.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 13:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2513</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII  (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo (SMK). Karena, seluruh tokoh penting  yang terlibat di dalam gerakan Komando Jihad ini, adalah petinggi NII  (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah  pulau di Teluk Jakarta.
Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII  (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo (SMK). Karena, seluruh tokoh penting  yang terlibat di dalam gerakan Komando Jihad ini, adalah petinggi NII  (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah  pulau di Teluk Jakarta.</p>
<p>Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu bentuk  petualangan politik para pengikut SMK pasca dieksekusinya sang imam.  Sebelumnya, pada Agustus 1962, seluruh warga NII (DI/TII) yang jumlahnya  mencapai ribuan orang, mendapat amnesti dari pemerintah. Termasuk, 32  petinggi NII (DI/TII) dari sayap militer, belum termasuk Haji Isma&#8217;il  Pranoto (Hispran) dan anak buahnya, yang baru turun gunung (menyerah  kalah kepada pasukan Ali Moertopo) pada 1974.</p>
<p>Dari 32 petinggi NII (DI/TII) yang telah menyerah[1] kepada pihak  Soekarno tanggal 1 Agustus 1962 itu, sebagian besar menyatakan ikrar  bersama, yang isinya:<br />
&#8220;Demi Allah, saya akan setia kepada Pemerintah RI dan tunduk kepada UUD  RI 1945. Setia kepada Manifesto Politik RI, Usdek, Djarek yang telah  menjadi garis besar haluan politik Negara RI. Sanggup menyerahkan tenaga  dan pikiran kami guna membantu Pemerintah RI cq alat-alat Negara RI.  Selalu berusaha menjadi warga Negara RI yang taat baik dan berguna  dengan dijiwai Panca Sila.&#8221; [2]</p>
<p>Sebagian kecil di antara mereka tidak mau bersumpah setia, yaitu  Djadja Sudjadi, Kadar Shalihat, Abdullah Munir, Kamaluzzaman, dan Sabur.  Dengan adanya ikrar tersebut, maka kesetiaan mereka kepada sang Imam  telah bergeser, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagai sebuah gerakan  berbasis ideologi Islam, NII (DI/TII) sudah gagal total. Dan sisa-sisa  gerakan NII pada saat itu (1962) dapat dikata sudah hancur lebur basis  keberadaannya.</p>
<p>Setelah tiga tahun vakum, ada di antara mereka yang berusaha bangkit  melanjutkan perjuangan, namun dengan meninggalkan karakter militeristik  dan mengabaikan struktur organisasi kenegaraan NII. Mereka inilah yang  meski sudah menerima amnesti namun tidak mau bersumpah-setia sebagaimana  dilakukan oleh sebagian besar mantan petinggi NII lainnya.</p>
<p>Gerakan tersebut menamakan diri sebagai gerakan NII Fillah (bersifat  Non Struktural). Kepemimpinan gerakan dijalankan secara kolektif oleh  Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi. Munculnya kelompok Fillah atau NII  non struktural ini, ditanggapi serius oleh pihak militer NKRI. Yaitu,  dengan menciptakan &#8220;keseimbangan&#8221;, dengan cara melakukan penggalangan  kepada para mantan &#8220;mujahid&#8221; NII yang pernah diberi amnesti dan telah  bersumpah setia pada Agustus 1962 lalu.</p>
<p>Melalui jalur dan kebijakan Intelijen, pihak militer memberikan  santunan ekonomi sebagai bentuk welfare approach (pendekatan  kesejahteraan) kepada seluruh mantan &#8220;mujahid&#8221; petinggi NII yang  menyerah dan memilih menjadi desertir sayap militer NII.</p>
<p><strong>Nama-nama Tokoh Penting di Belakang Gerakan Komando Jihad. </strong></p>
<p>Nama Danu Mohammad Hasan[3] yang pertama kali dipilih Ali Murtopo  untuk didekati dan akhirnya berhasil dibina menjadi &#8216;orang&#8217; BAKIN, pada  sekitar tahun 1966-1967. Pendekatan intelijen itu sendiri secara resmi  dimulai pada awal 1965, dengan menugaskan seorang perwira OPSUS bernama  Aloysius Sugiyanto.[4] Tokoh selanjutnya yang menyusul dibidik Ali  Murtopo adalah Ateng Djaelani Setiawan.</p>
<p>Tokoh lain yang diincar Ali Murtopo dalam waktu bersamaan yang  didekati Aloysius Sugiyanto adalah Daud Beureueh mantan Gubernur Militer  Daerah Istimewa ACEH tahun 1947 yang memproklamirkan diri sebagai  Presiden NBA (Negara Bagian Aceh) pada 20 September 1953, dan menyerah,  kembali ke NKRI Desember tahun 1962.</p>
<p>Selanjutnya pendekatan terhadap para mantan petinggi sayap militer  DI-TII yang lain yang berpusat di Jawa Barat dilakukan oleh Mayjen  Ibrahim Aji, Pangdam Siliwangi saat itu.[5] Mereka yang dianggap sebagai  &#8220;petinggi NII&#8221; oleh Ibrahim Aji itu di antaranya: Adah Djaelani dan  Aceng Kurnia. Kedua mantan petinggi sayap militer DI ini pada saat itu  setidaknya membawahi 24-26 nama (bukan ulama NII). Sedangkan mereka yang  dianggap sebagai mantan petinggi sayap sipil DI yang selanjutnya  menyatakan diri sebagai NII Fillah –antara lain adalah Kadar Shalihat,  Djadja Sudjadi dan Abdullah Munir dan Kamaluzzaman– membawahi puluhan  ulama NII.</p>
<p><strong>Pengaruh dan Akibat Kebijakan Intelijen Ali Murtopo – ORDE BARU.</strong></p>
<p>Baik menurut kubu para mantan petinggi sayap militer maupun sayap  sipil NII, politik pendekatan pemerintah orde baru melalui Ibrahim Aji  yang menjabat Pangdam Siliwangi tersebut, sangat diterima dengan baik,  kecuali oleh beberapa pribadi yang menolak uluran pemerintah tersebut,  yaitu Djadja Sudjadi[6] dan Abdullah Munir. Para mantan tokoh sayap  militer dan sayap sipil DI selanjutnya menjadi makmur secara ekonomi.  Hampir masing-masing individu mantan tokoh DI tersebut diberi modal  cukup oleh Letkol Pitut Suharto berupa perusahaan CV (menjadi  kontraktor) dilibatkan dalam proyek Inpres, SPBU atau agen Minyak Tanah.</p>
<p>Kebijakan OPSUS dan Intelijen selanjutnya menggelar konspirasi dengan  meminta para mantan laskar NII tersebut mengkonsolidasikan kekuatan  melalui reorganisasi NII ke seluruh Jawa dan Sumatra. Pada saat itu Ali  Murtopo masih menjabat Aspri Presiden selanjutnya menjadi Deputi Operasi  Ka BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik  digelarnya &#8216;opera&#8217; konspirasi dan rekayasa operasi intelijen dengan  sandi: “Komando Jihad” di Jawa Timur.</p>
<p>Dalam waktu yang bersamaan Soeharto menyiapkan Renstra (Rencana  Strategis) Hankam (1974-1978) sebagaimana dilakukan ABRI secara sangat  terorganisir dan sistematis melalui penyiapan 420 kompi satuan  operasional, 245 Kodim sebagai aparat teritorial dan 1300 Koramil  sebagai ujung tombak intelijen dalam gelar operasi keamanan dalam negeri  yang diberi sandi Opstib dan Opsus.</p>
<p>Sementara, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 tersebut Ali  Murtopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan al-Ubaidah Imam  kelompok Islam Jama&#8217;ah yang secara kelembagaan telah dinyatakan sesat  dan terlarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, namun pada waktu yang  sama justru dipelihara serta diberi kesempatan seluas-luasnya  melanjutkan kiprahnya dengan missi menyesatkan ummat Islam melalui  lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera  Golkar dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia)  yang berlanjut hingga sekarang.</p>
<p>Dari sinilah pendekatan itu berkembang menjadi makin serius dan  signifikan, ketika Ali Murtopo mengajukan ide tentang pembentukan dan  pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis  dari utara maupun dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Ide Ali Murtopo  ini selanjutnya diolah Danu Mohammad Hasan dan dipandu Letkol Pitut  Suharto, disambut Dodo Muhammad Darda, Tahmid Rahmat Basuki (anak SMK)  dan H.Isma&#8217;il Pranoto (Hispran).</p>
<p>Keberadaan dan latar belakang Letkol Pitut Suharto yang memiliki  kedekatan hubungan pribadi dengan Andi Sele di Makassar, juga dengan H.  Rasyidi [7] di Gresik Jawa Timur, pada tahun 1968 akhirnya ditugaskan  Ali Murtopo untuk mengolah hubungan dan keberadaan para mantan petinggi  NII yang sudah dirintisnya sejak 1965 tersebut dengan kepentingan  membelah mereka menjadi 2 faksi.</p>
<p>Faksi pertama diformat menjadi moderat untuk memperkuat Golkar, dan  faksi kedua diformat bagi kebangkitan kembali organisasi Neo NII.</p>
<p>Keterlibatan Pitut Suharto yang akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi  pejabat Dir Opsus di bawah Deputi III BAKIN terus berlanjut, Pitut  tidak saja bertugas untuk memantau aktifitas para mantan tokoh DI  tersebut, tetapi Pitut sudah terlibat aktif menyusun berbagai rencana  dan program bagi kebangkitan NII, baik secara organisasi maupun secara  politik termasuk aksi gerakannya.</p>
<p>Ketika BAKIN membuat program pemberangkatan atau pengiriman pemuda  (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah –seperti Mesir, Syria, Libya  dan Saudi Arabia yang diantara alumnnya kemudian terkait dengan konflik  Moro (MNLF) dan kelompok perlawanan Aceh– Pitut Suharto-lah yang  ditunjuk Ali Murtopo untuk mengelola (membimbing, memantau, mengurus dan  menyelesaikan) masalah tersebut, sekalipun keberangkatan para kader  aktifis Indonesia ke Negara-negara Timur Tengah tersebut terbukti hanya  untuk mempelajari pola-pola gerakan Islam di sana, sembari mempelajari  syari’ah sebagai cover, dan melakukan pelatihan militer.</p>
<p>Tetapi antisipasi yang dilakukan pihak pemerintah Indonesia pada saat  itu terlampau maju dan cepat, sekitar tahun 1975 keberadaan kedutaan  Libya di Jakarta dipaksa tutup. Tetapi skenario Opsus terhadap  kebangkitan organisasi NII terus digelindingkan. Bahkan Pitut Suharto  (pihak intelijen/orde baru) justru menggunakan isu politik Libya di mata  Barat dan bangkitnya NII tersebut dijadikan sebagai isu sentral terkait  dengan “bahaya laten kekuatan ekstrim kanan” di Indonesia.</p>
<p><strong>Kebijakan Abbuse of Power Intelijen Ali Murtopo.</strong></p>
<p>Bersamaan dengan kebijakan itu (memanfaatkan situasi politik terhadap  Libya tersebut) strategi Opsus yang dilancarkan melalui Pitut Suharto  berhasil meyakinkan para Neo NII tersebut untuk sesegera mungkin  menyusun gerakan jihad yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra untuk  melawan dan merebut kekuasaan Soeharto. Semakin cepat hal tersebut  dilaksanakan semakin berprospek mendapat bantuan persenjataan dari  Libya, yang sudah diatur Ali Murtopo.</p>
<p>Berkat panduan Letnan Kolonel TNI AD Pitut Suharto[8] kegiatan  musyawarah dalam rangka reorganisasi NII yang meliputi Jawa-Sumatra  tersebut berlangsung beberapa hari, hal itu justru dilaksanakan di  markas BAKIN jalan Senopati, Jakarta Selatan. Di sinilah situasi dan  kondisi (hasil rekayasa BAKIN-Ali Murtopo dan Pitut Suharto melalui kubu  Neo NII Sabilillah di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah  Djaelani, Hispran dkk) berhasil didesakkan kepada kubu Fillah yang  dipimpin secara kolektif oleh Djaja Sudjadi, Kadar Shalihat dan Abdullah  Munir dkk untuk memilih kepemimpinan.</p>
<p>Hasil musyawarah kedua kubu (Fillah dan Sabilillah ini) yang  dilakukan pada tahun 1976 ini menetapkan, kepemimpinan NII diserahkan  kepada Tengku Daud Beureueh sekaligus membentuk struktur organisasi  pemerintahan Neo NII yang terdiri dari Kementrian dan Komando  kewilayahan (dari Komandemen Wilayah hingga Komandemen Distrik dan  Kecamatan) namun tanpa dilengkapi dengan Majelis Syura maupun Dewan  Syura.</p>
<p>Provokasi dan jebakan OPSUS terhadap para mantan tokoh DI berhasil,  Struktur organisasi NII kepemimpinan Daud Beureueh berdiri dan  berlangsung di bawah kendali Ali Murtopo yang saat itu menjabat sebagai  Deputi Operasi Ka BAKIN melalui Kolonel Pitut Suharto.</p>
<p>Gerakan dakwah agitasi dan provokasi neo NII Sabilillah disponsori  Pitut Suharto dan Ali Murtopo mulai berkembang ke seantero pulau Jawa.  Muatan dakwah, agitasi dan provokasi para tokoh Neo NII bentukan Ali  Murtopo-Pitut Suharto hanya berkisar seputar pentingnya struktur  organisasi NII secara riil.</p>
<p>Karenanya kegiatan seluruh anggota kabinet Neo NII adalah melakukan  rekrutmen melalui pembai&#8217;atan secepatnya untuk mengisi posisi pada  struktur wilayah (Gubernur sekaligus sebagai Pangdam = Komandemen  Wilayah) dan posisi pada struktur Distrik (Bupati sekaligus sebagai  Kodim = Komandemen Distrik) seraya menebar janji akan segera memperoleh  supply persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal[9] yang akan mendarat  di pantai selatan Pulau Jawa.</p>
<p>Sasaran rekrutmen (pembai&#8217;atan) dilakukan hanya sebatas mengisi  posisi pada komandemen distrik struktur Neo NII, maka sasaran rekrutmen  dipilih secara tidak selektif di antaranya adalah para tokoh pemuda  Islam dan ulama atau kiai yang nota bene sangat awam politik maupun  organisasi.</p>
<p>Tugas rekrutmen untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh H.  Isma&#8217;il Pranoto dan H. Husein Ahmad Salikun. Di Jawa Timur aktifitas  rekrutmen bagi kebangkitan Neo NII yang dilakukan oleh H. Isma&#8217;il  Pranoto tersebut sama sekali tidak terlihat ada tindak lanjut apapun,  baik yang berbentuk pelatihan manajemen dakwah dan organisasi maupun  yang bersifat fisik baris berbaris, menggunakan senjata atau merakit  bom. Tetapi hanya terhitung selang sebulan atau dua bulan kemudian,  aparat keamanan dari Laksus tingkat Kodam, Korem dan Kodim menggulung  dan menyiksa mereka tanpa ampun.</p>
<p>Jumlah korban penangkapan oleh pihak Laksusda Jatim yang digelar pada  tanggal 6-7 Januari 1977 terhadap para rekrutan baru H. Isma&#8217;il Pranoto  mencapai sekitar 41 orang, 24 orang di antaranya diproses hingga sampai  ke pengadilan.</p>
<p>H. Ismail Pranoto divonis Seumur Hidup, sementara para rekrutan  Hispran yang juga disebut sebagai para pejabat daerah struktur Neo NII  tersebut, baru diajukan ke persidangan pada tahun 1982, setelah  &#8220;disimpan&#8221; dalam tahanan militer selama 5 tahun, dengan vonis hukuman  yang bervariasi. Ada yang divonis 16 tahun, 15 tahun, 14 tahun hingga  paling ringan 6 tahun penjara.</p>
<p>H. Ismail Pranoto disidangkan perkaranya di Pengadilan Negeri  Surabaya tahun 1978 dengan memberlakukan UU Subversif PNPS No 11 TH 1963  atas tekanan Pangdam VIII Brawijaya saat itu, Mayjen TNI-AD  Witarmin[10]. Sejak itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata  utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan  Islam.</p>
<p>Nama Komando Jihad sendiri menurut H. Isma&#8217;il Pranoto merupakan  tuduhan dan hasil pemberkasan pihak OPSUS, baik pusat maupun daerah  (atas ide Ali Murtopo dan Pitut Suharto). Sementara penyebutan yang  berlaku dalam tahanan militer Kodam VIII Brawijaya – ASTUNTERMIL di  KOBLEN Surabaya, mereka dijuluki sebagai jaringan Kasus Teror Warman  (KTW).</p>
<p>Sementara keberadaan Pitut Suharto sendiri sejak tanggal 6 Januari  1977 – saat dimulainya penangkapan terhadap H. Isma&#8217;il Pranoto dan  orang-orang yang direkrutnya sebagai kelompok Komando Jihad– Pitut  justru pergi menyelamatkan diri dengan menetap di Jerman Barat, dan baru  kembali ke Indonesia setelah 6 atau 7 tahun kemudian.</p>
<p>Di Jawa Tengah sendiri aksi penangkapan terhadap anggota Neo NII  rekrutan H. Isma&#8217;il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun oleh OPSUS,  seperti Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar Ba&#8217;asyir dan kawan-kawan  berjumlah cukup banyak, sekitar 50 orang, akan tetapi yang diproses  hingga sampai ke pengadilan hanya sekitar 29 orang. Penangkapan terhadap  anggota Neo NII wilayah Jawa Tengah rekrutan H. Isma&#8217;il Pranoto dan H.  Husen Ahmad Salikun berlangsung tahun 1978-1979.</p>
<p>Di Sumatera, aksi penangkapan secara besar-besaran berdasarkan isu  Komando Jihad ini terjadi sepanjang tahun 1976 hingga tahun 1980, dan  berhasil menjaring dan memenjarakan ribuan orang.</p>
<p>Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII –yang musyawarah  pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati,  Jakarta Selatan)– seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad  Hasan, Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad  Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja&#8217;i, Saiful Iman, Djarul  Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam  Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar  200 orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan  1981.</p>
<p>Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS  tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke  persidangan, selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk  beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama  tokoh yang dibebaskan tanpa syarat, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang  bernama Helmi Aminuddin bin Danu, salah seorang alumni program  pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur  Tengah (Madinah, Saudi Arabia) oleh Bakin.</p>
<p>Akan tetapi isu dan dalih keterkaitan dengan bahaya kebangkitan NII,  Komando Jihad dan Teror Warman berdasarkan hasil pengembangan penyidikan  pihak keamanan terhadap mereka yang pernah ditangkap maupun yang  diproses ke pengadilan, oleh pihak OPSUS digunakan terus untuk melakukan  penangkapan-penangkapan secara berkelanjutan dan konsisten.</p>
<p>Sekitar medio 1980 OPSUS Jawa Timur melakukan penangkapan terhadap 5  tokoh pelanjut Komandemen Wilayah Jawa Timur, Idris Darmin  Prawiranegara. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan berikutnya pada  medio 1982, terhadap orang-orang baru yang direkrut Idris Darmin di  wilayah jawa timur dengan jumlah sekitar 26 orang.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Secara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir dibidani dan buah  karya operasi intelijen OPSUS tersebut, sangat tidak layak untuk  dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis  ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fii  sabilillah).</p>
<p>Misi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para  mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan  dalam rangka memperoleh materi dan kedudukan politis,  kemudian  bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh  intelijen BAKIN yang benci terhadap Islam. Dengan demikian gerakan  Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun para mantan tokoh sayap  militer DI tersebut sulit dinilai sebagai perjuangan yang murni untuk  tegaknya Islam.</p>
<p>Perjuangan dan usaha para pihak atau pribadi yang dilakukan karena  semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong  dalam rangka memperoleh jabatan politis atau sarana materi sebagaimana  halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut,   menunjukkan posisi mereka sebagai korban pengkhianatan  para mantan  tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik.</p>
<p>Seluruh bentuk kerugian atau efek negatif yang menimpa masyarakat Neo  NII adalah karena provokasi dan agitasi para mantan tokoh sayap militer  DI, yang secara sadar dan sukarela menyetujui dan mendukung kebijakan  intelijen OPSUS (orde baru). Oleh karenanya merekalah yang harus  bertanggungjawab atas hancurnya gerakan dakwah Islam dan citra negatif  citra negatif dakwah. Dalam hal ini, ada tiga pihak yang harus  bertanggung jawab :</p>
<p>Pihak ke I adalah aparat teritorial pemerintah Orde Baru, mulai dari  tingkat Kodim, Korem hingga Kodam yang pada masa itu disebut sebagai  aparat Laksusda (DanSatgas Intel atau Intel Balak = Intelijen Badan  Pelaksana) yang bertugas melakukan penangkapan, penyiksaan hingga  pemberkasan terhadap jaringan gerakan Islam (Neo NII, Komando Jihad,  Teror Warman, Teror Imran* dan Usrah) yang menjadi target obyek operasi  intelijen. Pihak berikutnya adalah para pemrakarsa, pembuat skenario dan  sutradara dari operasi intelijen yang dirancang oleh sayap intelijen  yang berkuasa penuh di bawah struktur Kopkamtib.</p>
<p>Pihak ke I bisa juga disebut sebagai kekuatan bayangan dari struktur  kekuasaan yang ada saat itu namun diformat memiliki kewenangan penuh  untuk merancang program, mekanisme dan pengelolaan (mengendalikan)  terhadap perjalanan sistem politik, ekonomi dan pemerintahan yang  berlaku. Pihak ke I sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dan  menerima order, baik dari penguasa domestik maupun asing, mengingat  hukum Politik, kepentingan kekuasaan dan intelijen selalu mengglobal,  sesuai peta dan kubu ideologi yang eksis di dunia atau berlaku  universal.</p>
<p>Oleh karena itu pihak ke I diberi kewenangan luar bisa, baik dalam  menyusun grand &#8217;scenario&#8217; hingga tingkat pelaksanaan (juklak) yang  dilakukan secara rahasia dan rapi, selanjutnya dikordinasikan penerapan  aturan mainnya dengan lemhannas dan departemen-departemen maupun  kementrian. Dengan demikian tugas, peran dan keberadaan pihak ke I  menurut garis besar haluan negara merupakan hal yang legal dan wajar,  sekalipun untuk kepentingan itu harus mengorbankan apa saja (abuse of  power: terhadap demokrasi dan HAM) atau membuat sandiwara dan rekayasa  apa saja. Itulah hukum yang berlaku dalam dunia politik, kepentingan  kekuasaan dan intelejen.</p>
<p>Selanjutnya,  pihak ke I lainnya adalah mereka yang menjadi inisiator  membangkitkan neo NII, dalam rangka memberikan stigma negative terhadap  umat Islam, menciptakan beban psikologis kepada umat Islam Indonesia  yang hingga kini diposisikan sebagai produsen gerakan radikal bahkan  pelaku teror. Sebagai aparat negara seharusnya mereka menggali potensi  rakyat dan memberdayakan potensi tersebut ke tempat semestinya, bukan  justru dijadikan instrumen politik untuk menggapai kekuasaan dan atau  mempertahankan kekuasaan.</p>
<p>- Pihak ke II adalah pihak yang secara sengaja dan sadar menjalin  hubungan dengan pihak ke I, yang dikenal dan dipahami sebagai pejabat  intelejen militer sekaligus sebagai pejabat pemerintah dan Negara yang  licik dan kejam.</p>
<p>- Pihak ke III, adalah orang-orang yang bersedia direkrut dan  memposisikan dirinya sebagai pihak yang secara sadar telah terdorong dan  termotivasi untuk berjihad secara ikhlas di jalan Islam namun  terperosok dan terlanjur masuk ke dalam struktur gerakan Neo NII. Posisi  mereka adalah sebagai korban tak sadar dari abuse of Power, sistem dan  kebijakan politik maupun intelejen Orde Baru.</p>
<p><strong>Keterangan Tambahan Mengenai Teror Imran</strong>:</p>
<p>Munculnya kasus Jama&#8217;ah Imran pada pertengahan tahun 1980 berlangsung  melalui proses yang berdiri sendiri. Dalam artian, tidak ada  keterkaitan dan tidak ada hubungan –baik secara ideologi  maupun sikap  politik– dengan eksistensi gerakan Neo NII atau Komando Jihad dan Teror  Warman.</p>
<p>Memang sempat terjadi &#8220;interaksi&#8221; antara anggota Jama&#8217;ah Imran dengan  beberapa elite KW-9 (Komandemen Wilayah 9) dalam struktur Neo NII atau  Komando Jihad hasil ciptaan Ali Murtopo dan Pitut Suharto tersebut.</p>
<p>Bentuk &#8220;interaksi&#8221; yang terjadi pada akhir 1980-an itu, bukanlah  &#8220;interaksi&#8221; yang kooperatif tetapi justru saling kecam dan saling ancam.  Hal ini terjadi, karena H.M. Subari (alm) yang merupakan elite (orang  struktur) Neo NII KW-9 pernah mengatakan, &#8220;dalam satu wilayah tidak  boleh ada 2 Jama&#8217;ah dan 2 Imam yang berlangsung secara bersamaan,  kecuali salah satunya harus dibunuh.&#8221;</p>
<p>FOOTNOTE<br />
[1] Padahal, amanat/wasiat sang imam (SMK) adalah tidak boleh menyerah.</p>
<p>[2] Rahmat Gumilar Nataprawira, RUNISI (Rujukan Negara Islam  Indonesia). Dipertegas juga oleh pernyataan lisan dari Abdullah Munir  dan tertulis dari Abdul Fatah Wirananggapati (pemegang amanah KUKT dari  SMK 1953).</p>
<p>[3] Mantan Panglima Divisi atau Komandan Resimen DI-TII, pada saat  sidang pengadilan Militer – MAHADPER, Agustus 1962 mengaku salah dan  memberi kesaksian yang isinya menyalahkan sikap dan kebijakan politik SM  Kartosoewiryo. Hubungan ini kemudian memberi OPSUS buah menguntungkan  yang tidak disangka-sangka. &#8220;Saya berperan sebagai petugas pengawas  Danu,&#8221; kenang Sugiyanto, &#8220;dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia  dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di  Jakarta.&#8221; Selanjutnya sejak tahun 1971, Danu Muhammad Hasan dan Daud  Beureueh sering terlihat di jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat (salah  satu kantor Ali Murtopo), terkadang di Jalan Senopati (Kantor BAKIN),  ada kalanya di Tanah Abang III (Kantor CSIS).</p>
<p>[4] Menurut Sugiyanto hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga  menguntungkan yang tidak disangka-sangka. &#8220;Saya berperan sebagai petugas  pengawas Danu,&#8221; kenang Sugiyanto, &#8220;dan di bulan Maret 1966, kami  menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang  bersembunyi di Jakarta.&#8221; (lebih jelasnya lihat Kenneth Conboy, Intel:  Inside Indonesia&#8217;s Inteligence Services).</p>
<p>[5] Seperti pengakuan Ules Suja&#8217;i: &#8220;Soal pak Adah yang santer  diisukan menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu  pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS  sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari  Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah  lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil  oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk  ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya  sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya  Alhamdulillah berhasil.&#8221;</p>
<p>[6] Djadja Sudjadi akhirnya tewas dibunuh Ki Empon atas perintah Adah  Djaelani. Ironisnya, hingga akhir hayatnya Ki Empon meninggal dalam  keadaan miskin dan serba susah sedangkan Adah Djaelani hidup terpandang  dan lumayan sejahtera sebagai petinggi yang lebih dihormati dari AS  Panji Gumilang di lingkungan mabes NII di Ma&#8217;had Al-Zaytun, Indramayu.</p>
<p>[7] H. Rasyidi, adalah bapak kandung Abdul Salam alias Abu Toto alias  Syaikh A.S. Panji Gumilang, yang kini menjadi syaikhul Ma&#8217;had Al-Zaytun  yang dikenal sebagai &#8220;mabes&#8221; NII yang kental dengan nuansa misteri  intelejen. Abu Toto alias Abdul Salam Panji Gumilang sendiri sejak  mahasiswa menjadi kader intelejen kesayangan Pitut Suharto.</p>
<p>[8] Pitut Suharto pensiun dengan pangkat Kolonel, kini berdomisili di Surabaya.</p>
<p>[9] Janji serupa ini juga berulang pada diri Nur Hidayat, provokator  kasus Lampung (Talangsari) yang terjadi Februari 1989. Nur Hidayat dkk  ketika itu yakin sekali bahwa rencana makarnya pasti berhasil karena  akan mendapat bantuan senjata satu kapal yang akan mendarat di  Bakauheni, Lampung.</p>
<p>[10] Witarmin, menurut penuturan H Isma&#8217;il Pranoto di masa pergolakan  DI-TII adalah sebagai komandan Batalyon 507 Sikatan yang sempat  dilucuti oleh pasukan TII di bawah komando H. Ismail Pranoto.</p>
<p>[11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, alumni  Universitas Madinah, yang dikirim Bakin ke Saudi Arabia dalam Program  pemberangkatan para pemuda ke Timur Tengah, yang ketika kembali ke  Indonesia aktive dalam pergerakan.</p>
<p>[12] Pada tahun 1984, para para elite NII Komandemen Wilayah IX (yang  ditangkap OPSUS pada pertengahan tahun 1980 hingga pertengahan tahun  1981, bersama dengan para pimpinan Neo NII, Adah Djaelani-Aceng Kurnia)  dibebaskan bersyarat dari Rumah tahanan militer Cimanggis, tanpa melalui  proses hukum (Pengadilan), mereka itu adalah: Fahrur Razi, Royanuddin,  Abdur Rasyid, Muhammad Subari, Ahmad Soemargono, Amir, Ali Syahbana,  Abdul Karim Hasan, Abidin, Nurdin Yahya dan Muhammad Rais Ahmad, dan  Anshory; kecuali Helmi Aminuddin bin Danu M Hasan yang dibebaskan tanpa  syarat.</p>
<p>Mohamad Fatih.</p>
<p><strong>Referensi</strong>:</p>
<ul>
<li>Dengel,Holk H., <em>Darul Islam dan Kartosuwiryo</em> (terj.), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.</li>
<li>Jackson, Karl D., <em>Kewibawaan Tradisional, Islam dan Pemberontakan</em>: Kasus Darul Islam Jawa Barat, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989.</li>
<li>Kansil, C.S.T. dan Julianto S.A., <em>Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia</em>, Jakarta: Erlangga, 1982.</li>
<li>Kuntowidjojo, <em>Dinamika Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia</em>, Yogyakarta: Shalahuddin  Press, 1985.</li>
<li>Van Dijk, C. <em>Darul Islam: Sebuah Pemberontakan </em>(terj.), Jakarta: Pustaka Grafiti Utama, 1989.</li>
<li>Horikoshi, Hiroko,<em> “The Darul Islam Movement in West Java</em> : An Experience in Historical Process”, Indonesia, Nr.20, 1975.</li>
<li>Simatupang, T.B. dan Lapian, <em>“Pemberontakan di Indonesia: Mengapa dan Untuk Apa</em>”, Prisma, 1978.</li>
<li>Basri, Jusmar, <em>Gerakan Operasi Militer VI: Untuk Menumpas DI-TII di Jawa Tengah</em>, Jakarta: Mega Bookstore dan Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata SAB., n.d.</li>
<li>Dinas Sejarah Militer TNI-AD, <em>Penumpasan Pemberontakan DI-TII/SMK di Jawa Barat</em>, Bandung: Dinas Sejarah TNI-AD.</li>
<li>Komando Daerah Militer VII Diponegoro, Staf Umum I, <em>Bahan Perang Urat Syaraf Terhadap Gerombolan D.I. Kartosuwirjo</em>.</li>
<li>Wawancara dengan beberapa tokoh terkait peristiwa Komando Jihad.</li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fnii-komando-jihad-dan-orde-baru.htm&amp;linkname=NII%2C%20Komando%20Jihad%20dan%20Orde%20Baru"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/nii-komando-jihad-dan-orde-baru.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEMANA ARAH AL ZAYTUN DAN PROGRAM PENDIDIKANNYA ?</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/kemana-al-zaytun-dan-program-pendidikannya.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/kemana-al-zaytun-dan-program-pendidikannya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 09:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2509</guid>
		<description><![CDATA[Dalam program NII KW9, pendidikan bagi jamaah dibagi menjadi dua, yaitu formal dan non formal. Pendidikan formal adalah yang berbasis di Ma’had Al Zaytun sedangkan pendidikan non formal di teritorial dilakukan dalam bentuk silaturahmi, tazkiyah, itishol, ta’lim dan irsyad dari malja (kantor) ke malja di seluruh kontrakan se-Jawa. Dari pendidikan tersebut diharapkan lahir generasi siap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam program NII KW9, pendidikan bagi jamaah dibagi menjadi dua, yaitu formal dan non formal. Pendidikan formal adalah yang berbasis di Ma’had Al Zaytun sedangkan pendidikan non formal di teritorial dilakukan dalam bentuk silaturahmi, tazkiyah, itishol, ta’lim dan irsyad dari malja (kantor) ke malja di seluruh kontrakan se-Jawa. Dari pendidikan tersebut diharapkan lahir generasi siap pakai untuk mengambil alih tugas kenegaraan dari pejabat di NKRI. Hal yang kemudian terbukti sebagai hal yang jauh dari harapan.</p>
<p>Sebagai presiden merangkap menteri pendidikan NII, Syaikh A.S. Panji Gumilang menggulirkan program one pipe education yang berarti tingkatan S1, S2 dan S3 ditempuh ditempat yang sama bagi mahasiswa di Al Zaytun. Parogram lainnya adalah dengan menggalang para mas’ul untuk bersekolah kembali dan mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe yang dikerjasamakannya dengan mendapatkan komisi 30% dari SPP setiap mahasiswa. Untuk program UT, tidak kurang dari 6.000 mas’ul dari seluruh Jawa ikut serta untuk kembali menjadi mahasiswa. Kelak, mereka diharapkan menjadi ahli dalam bidang politik dan kenegaraan.</p>
<p>Namun, apa lacur. Sejak berdirinya hingga kini, program Al Zaytun mengalami penurunan drastis. Program one pipe education-nya tumbang lantaran tidak ada peminat. Mahad Aly atau universitas Al Zaytun ditutup DIKTI karena bermasalah dalam kualitas maupun kuantitas siswa. Masih di Al Zaytun, siswa yang akan masuk ke jenjang madrasah dan Tsanawiyah pun jauh dari harapan. Yang mendaftar dan diterima hanya berkisar pada angka 120-200 orang saja, itupun berasal dari anak-anak anggota NII. Hasil pendidikannya yang telah lulus tidak mampu bersaing di dunia luar. NCC memberikan catatan kepada lulusan Al Zaytun yang  kerap memberikan masukan tentang kiprah para alumninya. Keluh mereka, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan janji Panji Gumilang. Jangankan bisa berbicara 9 bahasa sesuai janjinya, juz amma yang seharusnya menjadi syarat masuk Al Zaytun saja sudah lupa ketika lulus. Alasannya, terlalu banyak main dan pengajaran para asatidz yang tidak fokus. Belum lagi permasalahan yang berkutat pada masalah keuangan yang justru menjadi bisnis sampingan para asatidz dan dewan guru.</p>
<p>Lain lagi pendidikan di teritorial. Para mas’ul yang menjadi mahasiswa UT harus menelan pil pahit. Pasalnya uang SPP mereka yang telah disetorkan ke Al Zaytun untuk pembayaran uang semester tidak disetorkan ke UT hingga setiap mahasiswa dianggap menunggak uang kuliah dan tidak bisa ikut ujian. Uang SPP sebesar Empat milyar bukan angka yang sedikit. Akibatnya, semua masul yang menjadi mahasiswa harus meninggalkan kuliahnya dan menggugurkan angan-angan mereka untuk menjadi pengganti pejabat RI bila futuh kelak akibat ulah pemimpinnya sendiri.</p>
<p>Bila pilar utama yang menjadi dagangan NII KW9 dan Al Zaytun-nya selama ini telah terkapar lunglai tak berdaya, lalu apa yang menjadi alasannya untuk terus berkarya. Apakah beralih pada pembangunan gedung serta pembangunan sektor ekonomi tanpa pendidikan yang berorientasi pada keuntungan?. Mungkin saja. Karena toh bangunan itu pula yang menjadi simbol kebesaran Panji Gumilang hingga menghadiahkan dirinya sendiri nama ke-100 dari asmaul husna, Al Muqti. Program perkebunan, jati emas, perikanan dan peternakan sapi yang dikembangkannya terbungkus dengan titel Al Muqti dan premis ”ma’sum”-nya seorang imam, mampu membutakan semua jamaah NII akan kegagalan yang telah terlihat jelas didepan mata. Atau alternatif lain, mungkin hanya menjadi underbow partai besar yang membayar. Toh NKRI masih toleran kepada Al Zaytun karena didukung oleh tokoh-tokoh besar yang pada dasarnya membutuhkan banyak hal dari Al Zaytun, dari uang, suara hingga money laundering. Selain itu, NKRI juga masih butuh kambing hitam suatu saat untuk segala pembiaran yang telah dibuatnya jika kelak masyarakat muslim meminta pertangungjawaban pemerintah akan korban-korban NII KW9.</p>
<p>Terakhir, satu hal yang menjadi ikatan utama semua program NII adalah repelita yang telah berakhir sejak bulan Shafar tahun 1430 atau tahun 2009 lalu. Seharusnya tahun 2009 merupakan tahap akhir perjuangan jamaah NII yang menghadiahkannya dengan futuh. Tapi toh, kalkulasi politik Panji Gumilang meleset. Yang harus dipahami jamaah NII adalah bahwa setelah shafar1430 tidak ada lagi program repelita yang mencanangkan futuh. Bahkan tidak ada keputusan apapun yang digagas dalam syuro untuk menyusun titik akhir perjuangan. Yang berarti, program pencarian dana tidak akan pernah ada akhirnya. Dan jamaah yang ada akan terus menjadi sapi perah hingga mengenyangkan perut-perut tuannya. Bila hanya menghasilkan generasi taat buta dan lemah, pendidikan apa yang telah dibuat Panji Gumilang beserta anteknya?. Pantas bila Allah menghancurkannya secara perlahan untuk menjadi ibroh bagi para jamaahnya yang terbutakan dari Islam.<br />
Dicky Cokro.. NCC</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fkemana-al-zaytun-dan-program-pendidikannya.htm&amp;linkname=KEMANA%20ARAH%20AL%20ZAYTUN%20DAN%20PROGRAM%20PENDIDIKANNYA%20%3F"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/kemana-al-zaytun-dan-program-pendidikannya.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JEJAK AKTIFIS NII JAKARTA DI JAWA TENGAH</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/jejak-aktifis-nii-jakarta-di-jawa-tengah.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/jejak-aktifis-nii-jakarta-di-jawa-tengah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2505</guid>
		<description><![CDATA[Indikator kesulitan pemasukan dana serta perekrutan jamaah di kalangan NII KW9 untuk wilayah Jakarta Raya sudah mulai terlihat sejak dua tahun terakhir. Hingga bulan Juli 2010, NCC mencatat penurunan drastis perekrutan jamaah dan pemasukan dana NII Jakarta. Per bulan Juli 2010 saja, pembaitan hanya berkisar 5-6 orang per hari, jauh dari quota hijrah, 20 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indikator kesulitan pemasukan dana serta perekrutan jamaah di kalangan NII KW9 untuk wilayah Jakarta Raya sudah mulai terlihat sejak dua tahun terakhir. Hingga bulan Juli 2010, NCC mencatat penurunan drastis perekrutan jamaah dan pemasukan dana NII Jakarta. Per bulan Juli 2010 saja, pembaitan hanya berkisar 5-6 orang per hari, jauh dari quota hijrah, 20 orang perhari untuk pria dan 20 orang per dua hari untuk wanita. Begitu juga untuk pendanaan yang biasanya mampu menghasilkan 10,5 Milyar, kini hanya mencapai kisaran 4-5 Milyar saja, itupun tidak sepenuhnya dari jamaah. Penurunan tersebut menjadikan perekrutan jamaah dan pencarian dana ini paling banyak ditopang dari dua distrik NII di Jakarta, yaitu Distrik Pulogadung dan Distrik Cilandak. Dua distrik tersebut memiliki latar belakang jamaah yang berbeda, Pulogadung terdiri dari jaringan buruh sedangkan Cilandak jaringan mahasiswa. Modus pencarian dana  yang digunakan pun berbeda, Pulogadung menggunakan pola relawan yang meminta sumbangan dari masyarakat RI di setiap ATM, SPBU, Mal bahkan dari rumah ke rumah dengan membawa proposal serta amplop dengan cover yayasan yatim piatu. Dilain tempat, Cilandak masih mengunakan pola penipuan kepada orang tua serta pengembangan sentra ekonomi dari restoran, koperasi, Event Organizer (Daun Production) serta NAC Motivational Training yang dimotori oleh Arief Adinoto.</p>
<p>Kondisi sulit ini menjadi perhatian pimpinan NII wilayah Jakarta. Apalagi dengan kenyataan bahwa beberapa daerah sudah hampir hancur, baik dalam struktural maupun kekuatan jamaahnya. Beberapa daerah yang sudah dalam tahap krisis adalah NII Daerah Jakarta Barat, Jakart Pusat, Jakarta Utara, Bekasi serta Tangerang. Sementara Banten Utara maupun Selatan hanya berjalan di tempat walau tidak mengalami penurunan drastis. Dari keprihatinan ini, pada syuro awal tahun 1413 H, para pimpinan NII wilayah Jakarta menyerukan untuk mencontoh gerakan NII di Jawa Tengah yang mampu menghasilkan dana besar dengan kemampuan jamaah yang relatif lebih kecil dari Jakarta. Hal itu pun diamini oleh semua daerah di wilayah Jakarta dengan mengadopsi sistem pencarian dana di Jawa Tengah dengan membentuk yayasan-yayasan yatim piatu dan mengerahkan jamaah untuk menjadi relawan. Selain itu, setiap distrik juga membentuk tim khusus yang bergerak untuk mencari dana dan mulai melakukan pembelian tanah-tanah untuk pembangunan rumah-rumah serta pertanian. Program ini dilakukan di Jakarta Timur dengan nama ”Seribu Kampung Harapan”. Sementara Jakarta Selatan membentuk Event Organizer selain Daun Production untuk meraih dana lewat pelaksanaan acara-acara di instansi pemerintah maupun swasta. Beberapa waktu lalu, pada hari AIDS sedunia, mereka melaksanakannya dengan melobi pihak Indosat dan Pemda Jakarta. Selian itu juga membentuk lembaga-lembaga pendidikan non formil yang bersifat profit oriented sekaligus menjadi wadah perekrutan.</p>
<p>Untuk masalah perekrutan, wilayah Jakarta menginstruksikan untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai daerah penopang. NII Jawa Tengah sendiri sejauh ini telah mapan dalam perekrutan. Besarnya angka pendanaan ternyata juga ditopang dari selektifnya perekrutan. Dari beberapa sumber NCC yang masih berstatus jamaah NII aktif di Jawa Tengah, fokus perekrutan adalah pada eksekutif muda, pengusaha dan mahasiswa dengan latar belakang ekonomi baik. Jaringan inilah yang semakin membesar dan memberikan banyak masukan dana bagi NII di Jawa Tengah.</p>
<p>Untuk NII Jakarta seperti distrik Cilandak dan Pulogadung, perluasan jaringan thaifah (istilah untuk kelompok yang bergerak diluar teritorial asli mereka) di beberapa wilayah di Jawa Tengah bukan hal baru. Untuk Cilandak misalnya, mereka telah memiliki thaifah di beberapa kota di Jawa Tengah. Diikuti selanjutnya dengan distrik Pulogadung. Namun, gerakan Cilandak lebih masif dan cepat penyebarannya. Dari Cilandak, adalah Onder Distrik (ODO-setingkat kecamatan dalam struktur NII) dari Cilandak Barat, khususnya desa 05 (932205) dan 08 (932208) yang telah memiliki jaringan jamaah yang aktif merekrut di Jawa Tengah. Sumber NCC mengatakan bahwa jumlah jamaah aktif di Jawa Tengah yang dikontrol dari Jakarta, terutama dua desa dari Cilandak Barat, telah mencapai ratusan personil. Mereka tersebar di beberapa kota, yaitu Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Malang, Surabaya dan Lampung. Di setiap kota yang telah memiliki jaringan, jamaahnya terdiri dari mahasiswa dari kampus setempat. Kampus-kampus yang telah memiliki jamaah NII di Jawa Tengah dan akan terus menjadi target perekrutan adalah UNS 11 Maret, UMS, UGM, AMIKOM, UNES, UNDIP, UMP, UNBRAW, sedangkan di Lampung mereka telah merekrut beberapa mahasiswa UNILA. Namun, melihat luasnya cakupan ruang gerak mereka, maka sangat memungkinkan universitas lain di wilayah Jawa Tengah juga sudah disusupi.</p>
<p>Divisi investigasi NCC sejak dua tahun lalu telah menerima beberapa laporan tentang anak hilang dan kasus penipuan NII dengan berbagai modus di wilayah Jawa Tengah. Beberapa diantaranya telah melapor ke polisi, terutama untuk anak hilang di Solo. Sedangkan di Yogyakarta tahun 2010 ada kasus penangkapan 3 orang personil NII karena kasus penipuan. Belum lagi laporan biasa yang setiap hari mengalir ke NCC tentang gencarnya perekrutan NII di kalangan mahasiswa di Jawa Tengah.</p>
<p>Hal ini sebenarnya bukan semata-mata masalah NCC. Ini seharusnya sudah menjadi masalah negara dan masalah agama yang seyogyanya dilakukan oleh pihak kepolisian dan ulama. Namun, sepertinya itu menjadi suatu hal yang mustahil saat ini untuk mengharapkan tindakan mereka. Maka jatuh kewajiban bagi setiap muslim untuk menjadikan masalah ini sebagai fardhu ain dan menjadi amal jariyah bagi setiap diri, Insya Allah, demi menghentikan gerak langkah gerakan perusak aqidah ini dimanapun mereka berada. Caranya dengan hal yang termudah, akses informasi, sampaikan ke orang terdekat lalu sosialisasikan secara meluas. Bila mampu, ambil tindakan, dengan melapor ke polisi dan MUI. Walaupun mereka belum bergerak, paling tidak banyak laporan masyarakat tentang kasus NII, sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk diam. Kalaupun tetap diam, kita doakan agar Allah menyadarkan. Bagi pihak kampus, lakukan imunisasi bagi mahasiswa baru, karena mereka akan menjadi target utama perekrutan  sejak mereka mulai aktif di kampus. Bagi keluarga korban yang anaknya terindikasi ikut NII, laporkan kasusnya ke pihak kampus agar rektorat menjadi waspada. Bagi seluruh mahasiswa muslim di Jawa Tengah, WASPADA!! Musuh sedang mengintai titik lemah kalian, jangan lengah!!. Rapatkan barisan, bulatkan tekad, satukan kata, LAWAN!! Allahu Akbar!.</p>
<p>Dicky Cokro NCC</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fjejak-aktifis-nii-jakarta-di-jawa-tengah.htm&amp;linkname=JEJAK%20AKTIFIS%20NII%20JAKARTA%20DI%20JAWA%20TENGAH"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/jejak-aktifis-nii-jakarta-di-jawa-tengah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUMMARY TABLIGH AKBAR  ”MENGUAK TABIR MISTERI PERGERAKAN NII”  26 JULI 2010</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/summary-tabligh-akbar-%e2%80%9dmenguak-tabir-misteri-pergerakan-nii%e2%80%9d-27-juli-2010.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/summary-tabligh-akbar-%e2%80%9dmenguak-tabir-misteri-pergerakan-nii%e2%80%9d-27-juli-2010.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 05:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Memenuhi undangan dari SKI FKIP UNS SOLO pada 26 Juli 2010, tim NCC mengirimkan delegasi untuk menjadi salah satu pembicara dalam tabligh akbar yang bertajuk ”Menguak Tabir Misteri Pergerakan NII”. Dalam acara tersebut seharusnya dihadiri tiga pembicara, namun karena alasan teknis, perwakilan dari MUI tidak dapat hadir. Sehingga acara berlangsung dengan dua pembicara, yaitu Al [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memenuhi undangan dari SKI FKIP UNS SOLO pada 26 Juli 2010, tim NCC mengirimkan delegasi untuk menjadi salah satu pembicara dalam tabligh akbar yang bertajuk ”Menguak Tabir Misteri Pergerakan NII”. Dalam acara tersebut seharusnya dihadiri tiga pembicara, namun karena alasan teknis, perwakilan dari MUI tidak dapat hadir. Sehingga acara berlangsung dengan dua pembicara, yaitu Al Ustadz Dr. H. M. Muinudinillah Basri, M.A. yang mewakili tokoh Islam di Solo dan Sukanto S.IP dari tim NCC.</p>
<p>Tabligh akbar yang berlangsung di masjid Nurul Huda itu dihadiri lebih dari 400 peserta yang berasal dari mahasiswa UNS. Beberapa diantaranya yang hadir diduga sebagai anggota NII KW9, tapi tak berselang lama mereka keluar dari masjid setelah para narasumber berbicara dengan lugas tentang seluk beluk NII KW9. </p>
<p>Dimulai dari pukul 8.30 hingga 11.00, tabligh akbar berlangsung serius dan ”keras”. Ustadz Muinudinillah dengan sederet hujjah yang syar’i, baik dari Al Qur’an dan Sunnah, mengulas semua kejanggalan maupun kesesatan gerakan NII KW9 yang sebelumnya dipaparkan Sukanto. Dengan tegas beliau menyatakan bahwa ajaran NII KW9 dengan mengutak-atik Al Qur’an serta merubah ketentuan pasti yang diturunkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah merupakan sikap kufur yang akan membawa mereka ke neraka Jahannam. Beliau pun menggarisbawahi tentang shalat yang dibagi menjadi dua dalam terminologi NII KW9, yaitu shalat ritual (shalat lima waktu) serta shalat universal (aktifitas melaksanakan program NII) merupakan kekufuran. Menurutnya, shalat adalah ketentuan yang telah jelas dan merupakan kewajiban yang tidak bisa digugurkan dengan ketentuan dari manusia. Walaupun kemudian ajaran NII KW9 mendasarkan sikap mereka pada periodisasi Makiyah dan Madaniyah, menurut ustadz Mu’in, hal itu tidak memiliki dasar yang jelas. Beliau menambahkan bahwa istilah periode Makiyah dan Madaniyah adalah hanya istilah dalam perjuangan namun bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat dan ibadah mahdah lain yang telah Allah tentukan dan dicontohkan oleh Rasulullah.</p>
<p>Pada sesi tanya jawab terungkap beberapa fakta bahwa regenerasi aktivis NII KW9 sudah masuk ke berbagai kampus di Jawa Tengah secara umum dan Solo khususnya. Gerakan mereka telah meresahkan masyarakat kampus. Pasalnya, bukan saja merugikan pribadi-pribadi yang secara langsung menjadi aktifis NII, namun dampaknya juga besar terhadap orang tua mereka masing-masing serta civitas akademika tempat mereka menuntut ilmu. Beberapa mahasiswa yang terindikasi terjangkit virus NII dalam waktu singkat berubah drastis dalam sikap. Hal ini berdampak pada nilai akademisnya yang cenderung menurun. Bahkan ada aktifisnya yang harus mengambil cuti bahkan drop out demi beraktifitas penuh di NII. Modus-modus operandi NII di Solo tidak berbeda dengan Jakarta. Pola penipuan dengan alasan menghilangkan laptop teman serta menabrak mobil orang hingga harus meminta ganti dari orang tua mereka dengan jumlah kisaran puluhan juta rupiah membuat banyak orang tua terpaksa tapi tidak curiga memberikan dana sejumlah yang anaknya inginkan.  </p>
<p>Menutup sesi tanya jawab, Sukanto menegaskan akan pentingnya langkah antisipasi lewat sosialisasi meluas terhadap gerakan NII KW9. Pasalnya, tim NCC mendapati bahwa jaringan yang bergerak di Solo, terutama dikalangan mahasiswa, merupakan perpanjangan tangan dari NII Jakarta yang kini kesulitan dalam perekrutan. Sukanto juga menambahkan agar mahasiswa Solo serta pihak kampus melakukan gerakan secara proaktif terhadap gerakan NII. Jangan menunggu sikap dari MUI maupun kepolisian, karena itu akan menjadi harapan yang jauh panggang dari api. Hal senada juga disampaikan ustadz Mu’in. Beliau bahkan mempertanyakan lambannya sikap MUI dan kepolisian dalam mengambil langkah strategis untuk menghentikan gerakan NII yang telah memakan banyak korban. Sebagai closing statement, ustadz Mu’in memastikan bahwa gerakan NII merupakan gerakan yang musyrik dan penuh kekufuran. Maka untuk para korbannya harus diambil langkah penyadaran. Sedangkan bagi para pelakunya harus diambil tindakan tegas. Beliau juga menghimbau akan pentingnya imunisasi bagi para mahasiswa baru yang akan menjadi target perekrutan NII. </p>
<p>Bagi kampus yang ingin mengadakan seminar bahaya NII alzaytun bisa menghubungi nomer layanan NCC</p>
<p>Setiap acara seminar juga disiarkan LIve oleh <a href="http://radiokwk.com/">http://radiokwk.com/</a></p>
<p>By Dicky Cokro. NCC</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fsummary-tabligh-akbar-%25e2%2580%259dmenguak-tabir-misteri-pergerakan-nii%25e2%2580%259d-27-juli-2010.htm&amp;linkname=SUMMARY%20TABLIGH%20AKBAR%20%20%E2%80%9DMENGUAK%20TABIR%20MISTERI%20PERGERAKAN%20NII%E2%80%9D%20%2026%20JULI%202010"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/summary-tabligh-akbar-%e2%80%9dmenguak-tabir-misteri-pergerakan-nii%e2%80%9d-27-juli-2010.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DISKUSI PUBLIK NII MASUK KAMPUS BERSAMA EX NII KW9 ALZAYTUN</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/diskusi-publik-nii-masuk-kampus-bersama-ex-nii-kw9-alzaytun.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/diskusi-publik-nii-masuk-kampus-bersama-ex-nii-kw9-alzaytun.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 15:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2492</guid>
		<description><![CDATA[Bersama Mantan Aparat NII KW 9 Alzaytun dan Solidsaritas Keluarga  Besar Korban NII ALZAYTUN (SIKAT)
Start/ Kumpul Di Aula LPPI, Jl.  Tambak No. 20 B
Jakarta Pusat ( Samping RS Tambak )
Pendaftaran  Gratis :
1. Via www.nii-crisis-center.com di 08985151228
2. Sdr. Ridho/Zia  Ulhaq LPPI ( Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam )
3. Aliansi Mahasiswa untuk korban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Bersama Mantan Aparat NII KW 9 Alzaytun dan Solidsaritas Keluarga  Besar Korban NII ALZAYTUN (SIKAT)</p>
<p>Start/ Kumpul Di Aula LPPI, Jl.  Tambak No. 20 B<br />
Jakarta Pusat ( Samping RS Tambak )</p>
<p><span>Pendaftaran  Gratis :</p>
<p>1. Via www.nii-crisis-center.com di 08985151228<br />
2. Sdr. Ridho/Zia  Ulhaq LPPI ( Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam )<br />
3. Aliansi Mahasiswa untuk korban NII KW 9 ( Sukanto )<br />
Menghadirkan  :<br />
1. Laksamana muda (Purn) TNI Wibisono (ex. Dansatgas Int. TNI )<br />
2.  Dr. Eggi Sudjana, SH. MSI (Kuasa Gukum )<br />
3. KH. Kholil Ridwan, LC (  MUI Pusat )<br />
4. Prof. Dr. Syafii Mufid , APU ( BaLitbang DEpag )<br />
5.  Suripto ( Pengamat Intelejen/ Anggota DPR F &#8211; PKS )<br />
6. Irjen. Pol  Purn Saleh Saaf (Mantan Kabaintelkam/ Kepala Badan Inteljen Keamanan ) Mabes POLRI</p>
<p>ACARA INI AKAN  DISIARKAN LIVE OLEH RADIO STREAMING INTERNET KWK FM  <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;5e3dd&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://radiokwk.com/" target="_blank">http://radiokwk.com/</a></span></span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fdiskusi-publik-nii-masuk-kampus-bersama-ex-nii-kw9-alzaytun.htm&amp;linkname=DISKUSI%20PUBLIK%20NII%20MASUK%20KAMPUS%20BERSAMA%20EX%20NII%20KW9%20ALZAYTUN"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/diskusi-publik-nii-masuk-kampus-bersama-ex-nii-kw9-alzaytun.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGALAMAN DIREKRUT OLEH JARINGAN NII KW9 PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/pengalaman-direkrut-oleh-jaringan-nii-kw9-alzaytun.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/pengalaman-direkrut-oleh-jaringan-nii-kw9-alzaytun.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 12:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/?p=2481</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman ini dialami oleh saudara &#38; teman saya yang pernah masuk  jaringan NII kw 9 karna dijerat oleh mereka yg telah masuk, pada tahap  awal mereka yang merekrut memberikan berbagai kajian dan wawasan  keagaman yang sangat menarik tanpa pernah memperlihatkan sisi  kejanggalan. mereka berusaha terus menerus memupuk dan menanamkan rasa  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalaman ini dialami oleh saudara &amp; teman saya yang pernah masuk  jaringan NII kw 9 karna dijerat oleh mereka yg telah masuk, pada tahap  awal mereka yang merekrut memberikan berbagai kajian dan wawasan  keagaman yang sangat menarik tanpa pernah memperlihatkan sisi  kejanggalan. mereka berusaha terus menerus memupuk dan menanamkan rasa  simpati sehingga akhirnya saudara saya yang sudah tergolong cukup dewasa  pun masuk jaringan tersebut dengan sepenuh hati dan menaruh banyak  harapan bahwa yang diikutinya akan membawa banyak perubahan yang positif  baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kemaslahatan umat pada umumnya.<br />
Tapi harapan itu segera musnah  ketika banyak sekali kejanggalan yg  dirasakannya, mulai dari banyak kekangan terhadap aktivitasnya,  kewajiban untuk menyerahkan sebagian besar penghasilannya dan yang  paling berat dirasakannya yaitu Menganggap orang diluar kelompoknya  adalah bukan pengikut islam/kafir. serta membolehkan untuk mengambil apa  yang dimiliki orang diluar kelompoknya baik diketahui maupun tidak yang  bisa diartikan jg membolehkan mencuri.<br />
sangat berat bagi saudara saya itu jika harus menganggap bahwa orang  diluar kelompoknya telah diikutinya itu bukan orang islam yang  sesungguhnya/kafir, saat itu semua keluarga  terutama orang tuanya yang  telah melahirkan merawat menafkahi sekaligus banyak mendidik tentang  agama islam harus di vonis kafir. saat itu saudara saya tsb merasa  benar-benar sangat galau antara harus mengikuti perintah orang2 yang  merekrutnya sementara hati nuraninya berkata lain. tidak mungkin harus  menganggap bahwa orang Islam sedunia diluar kelompoknya adalah orang  kafir terutama orang tua yang telah mengenalkan dan mengajarkan tentang  agama Islam.<br />
Tetapi kegundahan hatinya trsbt tidak cukup untuk segera menyadari  tetang kesesatan kelompok yang telah diikutinya itu, karna disisi lain  orang2 yg jadi pimpinan di kelompoknya itu tidak membiarkan saudara saya  untuk banyak berinteraksi baik dengan teman2 maupun keluarganya. setiap  saat selalu dipantau baik melalui handphone maupun didatangi langsung.  setiap saat hari-harinya benar-benar selalu dalam kendali pimpinannya  yang selalu mendoktrinasi.<br />
Nuraninya yang selalu merasa banyak kejanggalan merasa tidak berdaya  karna pengaruh pimpinan di jaringannya itu jauh lebih intens  mempengaruhinya dengan segala cara baik itu melakui ayat2 Qur’an maupun  dengan segala retorikanya tentang perjuangannya yang akan segera Futuh.  singkat cerita suatu waktu saudara saya yg telah masuk jaringan jaringan  NII kw9 Al Zaytun itu hendak berusa merekrut saudara temannya.  kebetulan tamannya yang akan direkrutnya itu seorang ustadz yang sudah  tau betul mengenai NII kw9 Zaytun, akhir bukan saudara saya yang  menceramahi tetapi malah diceramahi sama teman yang akan direkrutnya  itu. sisi positif dari pertemuan keduanya itu adalah kembalinya menguat  hati nurani saudara saya itu yang sebenarnya merasakan sekali banyak  kejanggalan tentang ajaran yang telah diikutinya, tetapi karna selalu  dibawah kendali pimpinan serta orang-orang yang menjeratnya akhirnya  tidak berdaya.<br />
Disisi lain saudara saya jg sudah merasa berat dengan adanya kewajiban  harus menyerah berbagai macam infak yg wajib untuk dipenuhinya hingga  harus menyerahkan sebagian besar penghasilannya untuk diserahkan  kepimpinannya. hingga akhirnya dengan nasehat temannya saudara saya itu  memberanikan diri untuk keluar dan segera menjauh orang-orang  dikelompoknya, sebagai resikonya saudara saya mengalami banyak sekali  ancaman.<br />
Yang paling berkesan baginya yaitu ketika didatangi ke tempat kerjanya  lalu diajak kebelakang dan diancam mau dibunuh karna mereka beralasan  orang yang keluar dari kelompoknya darahnya sudah halal untuk di  tumpahkan, tentu saja saudara saya trsbt syok hingga akhirnya jatuh  sakit meskipun akhirnya benar-benar bisa terlepas sepenuhnya berkat  dukungan dan nasehat temannya yang pernah mau ditilawah atau  direkrutnya.<br />
Satu hal yang membuatnya merasa sangat bodoh, yaitu ketika merasa  mendapat banyak ancaman tetapi tidak berani menceritakan hal tersebut  kebanyak orang baik itu keluarga maupun lingkungan terdekat lainnya  apalagi berani melaporkan masalahnya ke polisi.<br />
Itu semua karna selama didalam selalu di doktrin bahwa diluar  kelompoknya adalah kafir hingga akhirnya secara psikologis dirinya  merasa jauh dari keluarga teman2nya termasuk juga masyarakat. yang jelas  sekarang saudara saya itu merasa sangat trauma dengan pengalamannya  yang pernah terjerat NII KW 9 Al Zaytun. setelah saya banyak membaca di  situs ncc ternyata banyak jg cerita lainnya dari yg pernah masuk. yang  saya tulis ini hanya sepenggal dari pengalaman saudara saya, karna  keterbatasan waktu saya tidak dapat menceritakan semuanya termasuk  pengalaman teman saya sendiri yg pernah terjerat juga.</p>
<p>INFO lENGKAP KLIK : <a href="http://www.facebook.com/pages/wwwnii-crisis-centercom/223278758297"> http://www.facebook.com/pages/wwwnii-crisis-centercom/223278758297</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fpengalaman-direkrut-oleh-jaringan-nii-kw9-alzaytun.htm&amp;linkname=PENGALAMAN%20DIREKRUT%20OLEH%20JARINGAN%20NII%20KW9%20PESANTREN%20ALZAYTUN%20INDRAMAYU"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/pengalaman-direkrut-oleh-jaringan-nii-kw9-alzaytun.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELURUH PELAKU TERORIS ADALAH  SEMPALAN  DARI JAMAAH DI TII / NII DAN NII KW9 PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU</title>
		<link>http://www.nii-crisis-center.com/archives/seluruh-teroris-adalah-sempalan-dari-di-tii-nii-dan-nii-kw9-pesantren-alzaytun.htm</link>
		<comments>http://www.nii-crisis-center.com/archives/seluruh-teroris-adalah-sempalan-dari-di-tii-nii-dan-nii-kw9-pesantren-alzaytun.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 07:12:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nii-crisis-center.com/archives/seluruh-teroris-adalah-sempalan-dari-di-tii-nii-dan-nii-kw9-pesantren-alzaytun.htm</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Hambali (DPO Teroris Yang di tangkap A.S ), Heri Gulun ( Pelaku Bom Kuningan ), Asmar latin Sani ( pelaku Bom Marriot ) juga berasal dari gemblengan NII. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam atau menegakkan syariat Islam di Indonesia.</p>
<p>ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).</p>
<p>Seiring dengan penangkapan SMK pada tahun 1962 melalui sebuah operasi “Pagar Betis” yang cukup legendaris di kalangan aktivis NII, gerakan NII mulai terpecah menjadi beberapa faksi–meski ada yang bilang sebenarnya faksi itu hanya merepresentasikan basis wilayah gerakan saja.</p>
<p>Nah, di era tahun 1970-an dan 1980-an, muncul beberapa nama tokoh NII lanjutan, seperti Adah Djaelani (Mamak), Abu Darda, Rahmat Tahmid Basuki (keduanya putra SMK), dan Ajengan Masduki yang berbasis di Priangan. Sementara di Jawa Tengah, muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Menurut kalangan dalam NII, Abdullah Sungkar ketika itu adalah Amir NII Wilayah III Jateng, sedangkan Abu Bakar Baasyir adalah figur kepercayaan Abdullah Sungkar. Menurut kalangan dalam, baik Sungkar maupun Baasyir berbaiat kepada H. Ismail Pranoto (Hispran) pada tahun 1976–meskipun kemudian hal itu dibantah dalam pleidoi mereka.</p>
<p>Sungkar dan Baasyir pun kemudian bahu membahu dengan para tokoh DI lain, seperti Danu Muhammad Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani, dan Gaos Taufik. Sebagai catatan, Danu Muhammad Hassan adalah ayah dari Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin. Ketika para tokoh DI ini dituduh melakukan beberapa aksi teror, seperti pemboman Gereja Methodis di Medan, pemerintahan Soeharto mulai mengambil tindakan represif. Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto (Hispran), Gaos Taufik, Danu Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll. Mereka dituding terlibat gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.</p>
<p>Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat keamanan belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir dalam gerakan Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara Abu Bakar Ba’asyir lebih aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar dikenal keras. Salah satu tema paling ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi.</p>
<p>INFO LENGKAP KLIK  LING BERIKUT  <a href="http://www.nii-crisis-center.com/noordin-m-top-dan-negara-islam-indonesia-komandemen-wilayah-sembilan-al-zaytun-ja-bar">TERORIS ADALAH  SEMPALAN  DARI DI TII / NII</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.nii-crisis-center.com%2Farchives%2Fseluruh-teroris-adalah-sempalan-dari-di-tii-nii-dan-nii-kw9-pesantren-alzaytun.htm&amp;linkname=SELURUH%20PELAKU%20TERORIS%20ADALAH%20%20SEMPALAN%20%20DARI%20JAMAAH%20DI%20TII%20%2F%20NII%20DAN%20NII%20KW9%20PESANTREN%20ALZAYTUN%20INDRAMAYU"><img src="http://www.nii-crisis-center.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nii-crisis-center.com/archives/seluruh-teroris-adalah-sempalan-dari-di-tii-nii-dan-nii-kw9-pesantren-alzaytun.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
