- Temukan di web ini www.nii-crisis-center.com Info terbaru ttg g...
- Masyarakat Indonesia Membangun (MIM) adalah sebuah organisasi k...
- Gembar-gembor tanpa klimaks tentang Negara Islam Indonesia (NII) dan Ma&...
- Meski pun sudah dinyatakan sebagai Pondok Pesantren yang mengajarkan ajaran...
- Para jamaah NII alzaytun Menghalalkan merampok, mencuri, menipu, memeras, m...
Mengupas Sejarah NII ( BUKLET NII VS NKRI )
Perseteruan antara NII dengan NKRI merupakan sebuah perbedaan pemikiran, juga perkara politik dalam era revolusi yang masih carut marut kondisinya. Dan, bukanlah semata-mata masalah agama hingga mengkafirkan orang yang bukan menjadi bagian dari kelompoknya untuk diperangi”
Negara Islam Indonesia (NII) adalah realisasi dari perjuangan Darul Islam yang menginginkan berdirinya negara Islam di Indonesia. Darul Islam merupakan sebuah gerakan bersenjata di Jawa Barat yang terbentuk demi melawan penjajah Belanda. Darul Islam terdiri dari ormas Islam, laskar Hizbullah serta Sabilillah, ulama dan masyarakat umum, terutama dari kalangan petani.
NII diproklamasikan pada 07 Agustus 1949 di Jawa Barat. NII mengatur gerakannya dengan qanun azasi (undang-undang dasar) dan qanun jinayat (undang-undang pidana). Struktur NII telah terbentuk lengkap, baik sipil maupun militer, termasuk bendera, tanda kepangkatan, mata uang dan lagu kebangsaan.
Bagaimana isi proklamasi berdirinya NII;
Dengan Nama Allah yang Maha Murah dan Yang Maha Asih
Kami Umat Islam Bangsa Indonesia Menyatakan Berdirinya Negara Islam Indonesia. Maka
Hukum yang Berlaku Atas Negara Islam Indonesia Adalah Hukum Islam.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Madinah Indonesia, 12 Syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M
Atas Nama Umat Islam Bangsa Indonesia
Imam Negara Islam Indonesia
SM. Kartosoewirjo
NII diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ia seorang terpelajar, pendidikan terakhirnya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) merupakan sekolah kedokteran Hindia Belanda di Surabaya. Kartosoewirjo adalah seorang pejuang kemerdekaan, seorang tokoh Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII) juga murid dari H.O.S. Cokroaminoto. Kartosoewirjo mendapatkan pengetahuan agama Islam secara otodidak dari buku-buku terjemahan Belanda. Baru setelah menikah, Kartosoewirjo mendalami agama dari mertuanya yang merupakan seorang ajengan dan para ulama Jawa Barat, terutama dari Malangbong. Kartosoewirjo sudah menelurkan ide negara Islam sejak dirinya aktif dalam partai politik. Namun baru tahun 1948 NII secara matang digagasnya bersama tokoh-tokoh yang sepemikiran dengannya dari kalangan ulama Jawa Barat maupun politisi Masjumi, PSII juga kalangan laskar militer di Hizbullah dan Sabilillah.
NII diproklamirkan di desa Cisampah, Cisayong, Jawa Barat. Sejak itu, beberapa wilayah di Jawa Barat menjadi basis gerakannya. Seiring dengan kekecewaan beberapa tokoh diluar Jawa terhadap pemerintahan Soekarno, NII pun meluas hingga Aceh, Sulawesi dan Kalimantan.
Dalam struktur NII, pembagian wilayah terdiri dari; Komandemen Perang Seluruh Indonesia (KPSI), Komandemen Perang Wilayah Besar (KPWB) yang terdiri dari tiga wilayah besar; Sumatera, Jawa- Madura serta Sulawesi. Dan saat ini populer dengan Komandemen Perang Wilayah (KW), yang terdiri dari, KW-1 Priangan Utara, KW-2 Jawa Tengah, KW-3 Jawa Timur, KW-4 Sulawesi, KW-5 Sumatera, KW-6 Kalimantan, dan KW-7 Priangan Selatan.
NII dibentuk dengan alasan bahwa Republik Indonesia (RI) telah kandas setelah Soekarno- Hatta ditawan Belanda pada Agresi Belanda kedua. Munculnya kekecewaan masyarakat di Jawa Barat terhadap pasukan Siliwangi karena meninggalkan wilayahnya untuk hijrah ke Yogyakarta hingga Jawa Barat kosong dan rapuh akan serangan Belanda. Gagalnya diplomasi RI dalam rangka mempertahankan wilayah Indonesia pada perjanjian Renville dan Linggarjati. Di Aceh, munculnya NII karena kekecewaan Daud Beureuh dan masyarakat Aceh terhadap ingkar janjinya Soekarno akan otonomi khusus yang dijanjikan. Di Sulawesi Selatan, Qahhar Mudzakar kecewa terhadap Soekarno akibat rasionalisasi militer yang tidak berpihak padanya juga para pasukan dibawahnya. NII bertahan karena mendapat dukungan moril dan materil dari masyarakat yang menjadi pengikutnya.
Perkara agama memang menjadi tampilan utama perjuangan NII, namun dikalangan pengikutnya, kepercayaan nila-nilai mistis tentang Kartosoewirjo dan NII sebagai Ratu Adil menjadi motivasi dan pengharapan besar dari para pengikutnya di wilayah Jawa Barat. Tidak terkonsentrasinya penanganan NII karena kondisi politik republik yang masih carut marut pasca kemerdekaan. Baru setelah tahun 1959 Soekarno memegang kuat tampuk kekuasaan dengan demokrasi terpimpin, NII mulai diberantas. Secara organisasional, kekuatan gerakan yang didirikan Kartosoewirjo terletak pada kemampuan untuk mengatur, menyusun dan menyelenggarakan susunan ketentaraan dan susunan organisasi kenegaraan NII. Termasuk penerapan disiplin tinggi yang didasarkan pada pengamalan cita-cita proklamasi NII, penerapan baiat dan Sapta Subaya.
NII mulai terdesak setelah pemerintah melakukan operasi militer di kantong-kantong militer NII di Jawa Barat. Operasi dilakukan setelah beberapa kali negosiasi damai antara NII dan NKRI gagal. Operasi militer dipimpin oleh Ibrahim Adjie yang ketika itu menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, dengan sandi “PAGAR BETIS”. Kartosoewirjo tertangkap tanggal 4 Juni 1962 di Gunung Geber, Jawa Barat. Setelah melakukan sidang maraton selama tiga bulan, Kartosoewirjo dieksekusi pada 12 September 1962.
Sebelum eksekusinya, Kartosoewirjo sempat menyampaikan wasiat kepada istrinya, Dewi Siti Kalsum, “Tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun.” Menurut Sardjono, putra bungsu Kartosoewirjo, amanat terakhir ayahnya termaktub dalam maklumat Imam no. 14, yaitu penghentian tembak menembak dan kembali kepada pangkuan Republik Indonesia.
Pasca Kartosoewirjo, para mantan petinggi NII membuat ikrar untuk kembali ke pangkuan Ibu pertiwi. Beberapa mantan komandan militer NII kemudian digalang oleh pemerintah serta difasilitasi secara ekonomi. Dari hubungan yang dekat itu, para mantan aktifis NII digunakan pemerintah untuk memberantas komunisme pada tahun 1965. Setelah komunisme diberantas, Islam menjadi ancaman baru pemerintah Orde Baru. Pecahlah kemudian koalisi sesaat antara NII dan NKRI.
Gerakan Komando Jihad (KOMJI) dan Teror Warman yang dimotori oleh para mantan aktifis NII menggelora di Sumatera dan Jawa sebagai bagian dari perlawanan terhadap Orde Baru serta untuk memperlihatkan eksistensi NII. Respon represif pemerintah terhadap para aktfis NII menguatkan konsolidasi untuk membangkitkan kembali NII yang berujung pada pengangkatan Imam baru NII pasca Kartosoewirjo pada tahun 1974. Sejak itu, gerakan NII kembali bergerilya hingga hari ini.
Tulisan ini juga di posting di Faktapos.com


