ISTANA KHUSUS AS PANJI GUMILANG

Konsultasi MUI


K.H Mahruf Amin

0816790343

Amidhan

081172000

Aminudin Yakub

0818404946

K.H Kholil Ridwan

0816882911

Inilah representasi dari individualisme ‘ aku ‘ yang ingin diagungkan, keserakahan pengakuan atas dirinya dalam fatamorgana cita – citanya yang kebablasan karena selalu puas dan bangga berdiri diatas pondasi menghalalkan segala cara ‘ machiveli’, hingga meninggalkan warisan generasi yang terbelakang pada korban – korban atas kejahatannya yang dilegalkan [ sebab tanpa tindakan hukum dari aparat dan institusi berwenang secuilpun ], meninggalkan luka – luka pedih dan panjang tak terkira dari mujahid – mujahid islam yang hanif dan istiqomah. Keangkuhan peniadaan atas realitas semakin tragis terkristal dalam wujudnya ala menara gading, yaitu Istana AS Panji Gumilang di Al Zaytun.

Istana AS Panji Gumilang, demikian orang – orang Al- Zaytun menyebutnya. Sebelum terjadi konflik, pernah anggota Tibmara mengajukan usul agar kiranya memberikan kesejahteraan yang layak bagi para muadhof ataupun ustazd dengan membangun perumahan bagi mereka, daripada membangun istana kayak raja dan presiden saja, karena merekalah ujung tombaknya, karena tanpa merekalah takkan berdiri gedung – gedung megah dan berjalannya roda kegiatan belajar mengajar dengan sempurna. Namun AS Panji Gumilang menolak keras usulan tersebut, dari sini saja sudah kelihatan bahwa ambisi dan kepentingan pribadinya yang lebih dominan daripada usulan – usulan di luar dirinya, sehingga tetap bersikukuh untuk tetap membangun istana tersebut, meski saat itu dalam masa – masa defisit dana/ anggaran karena telah kehilangan sekitar kurang lebih 60.000 jamaah [ pasca kejadian konflik dengan Tibmara/ Garda Ma’had ] . Tentu kita tak salah menebak jika nantinya istana yang berada di Al-Zaytun itu dijadikan sebagai pusat kegiatan koordinasi operasional teritorial, rapat – rapat rahasia dan penyimpanan dokumen – dokumen rahasia, pokoknya yang berbau rahasia – rahasialah. Karena sebelum adanya istana ini, AS Panji Gumilang tadinya berkantor di gedung pembelajaran Abu Bakar as Shidiq bagian depan dan tempat istirahatnya adalah di asrama Al Mustopa. Ruang – ruang atau tempat – tempat yang senantiasa berhubungan dengan aktivitas AS Panji Gumilang selalu dalam area/ zona terlarang bagi siapa saja termasuk orang dalam. Jadi tidak anehkan kalau si AS Panji Gumilang tidak mau ketahuan jika ada tamu – tamu rahasia, hal hal yang rahasia tapi diketahui oleh warga Al Zaytun, baik itu oleh muadhof, ustazd, santri bahkan exponen itu sendiri.

Istana yang ada di Ma’had Al Zaytun juga sebenarnya telah disiapkan dengan matang sebagai persiapan pengalihan kekuasaan atas RI tahun 2004 atau tahun diatasnya meminjam terminology kerajaan Ratu Balqis [ dalam konteks kekinian digambarkan Megawati sebagai presiden RI ] nantinya ‘’ menurut firasat dan tafsir versi mereka ‘’akan diserahkan ke kerajaan Sulaiman [ dalam konteks kekinian digambarkan sebagai Abu Toto/ AS Panji Gumilang ] dan keyakinan itu telah demikian kuat tertanam bahwa NII KW IX Abu Toto bisa meraih kemenangan atau istilah mereka futtuh makkah tahun 2004, hingga para muadhof, ustazd, aparat – aparat diharuskan wajib menghafal surat An Naba setiap hari [ berita; khusunya berita kemenangan ] . Sebagai kilas baliknya kita bisa menyimak dari statement – statement AS Panji Gumilang ketika dia berpidato dihadapan lautan massa pendukungnya dan pejabat – pejabat RI pada perayaan 1 hijriyah tahun 2001 sekaligus launching peresmian dimulainya pembangunan Masjid Rahmatan lil Alamin, dia berkata ,’’ Jika Jakarta sebagai ibukota RI tidak mampu dan tidak becus/ sanggup lagi untuk mengatur negeri RI yang terus – menerus dalam kondisi krisis multi dimensi tiada akhir maka pindahkanlah Ibukota negaranya ke Indramayu [ red; Al-Zaytun ] saja, pasti akan aman, beres, makmur sejahtera lahir bathin tanpa masalah.

Mendengar statement itu, mendadak penulis tercengang dan berasumsi bahwa telah ada grand design/ scenario besar atas negeri khatulitiwa ini tentang perpindahan kekuasaan atau pemerintahan dengan sebegitu mudahnya, seperti membalikkan sebuah telapak tangan saja, begitu simple teori kausabilitasnya. Namun perlu dicatat, Allah azza wa jalla berkehendak lain, dimana kemudian hari akhirnya DPR/ MPR RI menetapkan bahwa pemilu tahun 2004 itu para calon presiden dan calon wakil presiden itu dijadikan dalam satu paket, sehingga menutup kemungkinan jika nantinya AS Panji Gumilang akan berkuasa terhadap republik ini dan ditambah lagi skandal pemilu di Al-Zaytun yang begitu heboh semakin mencoreng nama AS Panji Gumilang dan Ma’had Al Zaytun itu dimata publik dan pentas nasional..

  • Share/Bookmark