KALENDER APA KOK HARGANYA RP. 300.000,-/ LEMBAR ?
Konsultasi MUI
K.H Mahruf Amin
0816790343
Amidhan
081172000
Aminudin Yakub
0818404946
K.H Kholil Ridwan
0816882911
Seperti kesesatan dan penindasannya terhadap ummat yang dari A sampai Z, keanehan Al-Zaytunpun memang begitu sempurna, bukan karena keajaibannya semata tetapi cara – cara pemerasan halus diluar komunitas internal teritorialpun makin gila, yaitu pada santri – santrinya, bayangkan saja mana ada di daerah lain di Indonesia ini yang menjual kalender lembaran harganya sampai Rp. 300.000,-/ lembar dengan dimensi 89 cm x 121 cm gramatur kertas 80 gram, colour separation + laminating ( dengan asumsi biaya termurah material + cetak Rp.2.800 dan biaya laminating Rp.0,015/ cm ) dan dicetak dalam 10.000 exemplar, berlaku sampai 6 tahun dari 2001 – 2007, bukankah itu akan menghasilkan Rp. 3.000.000.000,- ( tiga milyar rupiah ), hasil yang diluar perkiraan logika kita, padahal kalau dihitung – hitung biaya total untuk ongkos itu sekitar 1 % saja ( toleransi tertinggi sampai 2% ), jika dibandingkan dengan pasaran umum, dengan spesifikasi tersebut paling mahalnya harga kalender tersebut diluar sekitar Rp 20.000,-/ lembar. Tentu dengan estimasi seperti itu maka harga kalender satu lembar Rp. 300.000,- adalah sangat tidak wajar, lalu apa istimewanya kalender tersebut, menurut penulis tidak ada yang istimewa karena berdasarkan investigasi yang kami lakukan ternyata bahwa yang dulu terdengar santer tentang kurikulum terpadu yang lain dari lain ternyata itu tidak berlaku lagi, tetapi kenyataannya sekarang adalah mengikuti kurikulum umum yang ada di RI, jadi kalender pendidikan Al-Zaytun secara tidak langsung berarti tidak berlaku dilingkungan internal Al-Zaytun.
Sebagai tambahan, jika kita telusuri waktu tahun – tahun pertama penerimaan santri di Al-Zaytun, bahwa AS Panji G. pernah mengatakan bahwa beaya study santri Al-Zaytun cukup 1200 US dollar untuk sampai waktu yang cukup lama dari tingkat SMP sampai SMTA ( dan sudah tertmasuk beaya makan + air minum ) maka itu tidak benar kenyataannnya sekarang, karena kini santri – santri harus membayar sampai Rp. 30.000.000,- ( tiga puluh juta rupiah ) plus belum ditambah lagi biaya kalender, air minum, tes narkoba, akomodasi pulang kampung ketika liburan dll. Nah kalau demikian bagaimana nasib anak santri yang orangtuanya dari pekerja kasar Al-Zaytun dan yang berada di teritorial, apa itu tidak bikin klenger ( pingsan ) tujuh keliling namanya !.
